I'm in the business of misery, let's take it from the top
She's got a body like an hourglass that's ticking like a clock
It's a matter of time before we all run out
But when I thought he was mine she caught him by the mouth
I waited eight long months, she finally set him free
I told him I couldn't lie, he was the only one for me
Two weeks and we caught on fire
She's got it out for me but I wear the biggest smile
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
Second chances they don't ever matter, people never change
Once a whore, you're nothing more, I'm sorry, that'll never change
And about forgiveness we're both supposed to have exchanged
I'm sorry honey but I passed it up, now look this way
Well there's a million other girls who do it just like you
Looking as innocent as possible to get to who,
They want and what they like, it's easy if you do it right
Well I refuse, I refuse, I refuse!
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him right now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
I watched his wildest dreams come true
And not one of them involving you
Just watch my wildest dreams come true
Not one of them involving
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
Saturday, December 15, 2012
Friday, November 9, 2012
Teman Pertama
“Hello, My name is Anandia Martha Yuniati,”
Seseorang
mengacungkan tangannya. Seorang laki-laki dengan penampilan paling berantakkan
yang pernah aku temui.
“Lo bisa bahasa
Indonesia nggak, sih? Nggak usah sok formal pakai bahasa Inggris hanya karna lo
sekolah di Sekolah Internasional deh,”
Semua murid di
kelas itu sontak tersenyum-seyum menahan tawa. Bagian mana yang lucunya?
“Jaga sikapmu,
Keyfa!” Tegur Bu Guru.
“Little bit,” Balasku datar. “Boleh saya
duduk sekarang, Ma’am?”
“Tentu
tentu.......” Bu Guru itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas. “Kamu
duduk dengan Keyfa saja. Kebetulan teman duduknya sedang absen.”
Aku mengangkat
alisku. Dengan orang itu? Tidak salah? Aku akan membantah ketika kuamati
lekat-lekat wajah guruku. Wajah yang sangat ramah. Kata-kata yang sudah diujung
lidahku harus ku telan kembali. Aku mengangguk hormat lalu berjalan ke tempat
aku harus duduk.
“Jadi,
Anan....”
Aku banting
pelan tasku lalu duduk. Aku tidak ingin membuat kekacauan di hari pertamaku. “Panggil
saya Artha,”
Orang itu
tersenyum mengenjek. Betul-betul tampang yang sangat menyebalkan.
“Terserah deh.
Jadi, lo itu bule, hah?”
Aku pandang
laki-laki itu. “Apa maksud anda dengan kata ‘bule’ tadi?”
Laki-laki
bernama Keyfa itu melongo. Aku mendengus melihat ekspresinya itu. “Jujur, saya
kagum dengan namamu. It’s a good name.
But it’s not suit with your attitude,” Komentarku.
Wajah laki-laki
itu semakin tak terkontrol. Sungguh pemandangan yang lucu.
***
“You came from France? Really?”
“Why do you come back to Indonesia? France
is better than Indonesia, isn’t it?”
“How the guy in there? Omg!! I want to go to
France someday,”
“Kalian
apa-apaan, sih?! Norak tahu nggak. Dia tuh orang Indonesia. Nggak usah sok
ngomong pakai Bahasa Inggris. Bahasa nasional kita kan Bahasa Indonesia. Urusan
dia kalau dia nggak ngerti apa yang kita omongin!”
Aku terperanjat
mendengar suara keras Keyfa. Untung saja Bu Guru tadi sudah keluar. Aku
tak
ingin melihat wanita seperti dia marah-marah. Aku memang berasal dari
Perancis.
Mamaku adalah orang Perancis dan ayahku orang Indonesia. Akibatnya aku
mempunyai rambut hitam legam, badan proporsional, kulit yang lebih putih
dari orang asia
umumnya, dan mata berwarna abu-abu. Aku tinggal di Indonesia dari lahir
hingga
umur 7 tahun. Lalu ayahku ditugaskan ke Perancis, hingga aku kembali ke
Indonesia lagi.
“Ih, Keyfa!
Biasa aja kali. Reaksi lo lebay tahu,” Ujar perempuan yang memperkenalkan
dirinya dengan nama Ratih.
Aku mengerutkan
alis. “Apa itu ‘lebay’?”
“It means... Umm.. Acting more than it should
be,” Balas Ratih dengan senyum yang super ramah. Tapi ramah yang terlalu
dibuat-buat.
Aku lihat Keyfa
menggedikkan bahu seperti merinding kedinginan. “Norak banget sih lo, Ratih!
Dia aja nanyanya pakai Bahasa Indonesia, lo jawabnya sok pakai Bahasa Inggris.
Reva! Tuker bangku, yuk! Bisa mendadak gila gue disini,” Teriak Keyfa ke salah
satu laki-laki di sudut kelas.
“Nggak, deh. Lo
sih duduk di depan. Hari ini ulangan Bahasa Jepang. Kan gue ogah ulangan
berhadapan langsung dengan Sensei.”
Teriak laki-laki yang dipanggil Reva tadi. Keyfa mendengus karna harus menerima
nasibnya terperangkap denganku.
“Yaudeh. Lo
tuker sama gue aja, Fa! Noh, lo duduk sama Megan. Biar gue duduk sama Artha...”
Ratih menengok ke arahku dengan wajah yang berseri-seri. “Is it okay if i’m being your chairmate?”
Belum sempat
aku membalas ucapannya, dia sudah melenggang pergi dan kembali membawa tas.
Lalu dia melakukan gerakkan seperti mengusir Keyfa. Bagian kecil dariku tak
ingin Keyfa pergi. Lebih baik aku terperangkap dengannya daripada dengan Ratih.
“If you need something, you can ask me. This
is my job as your friend.” Ujar Ratih yang sudah duduk di sampingku.
Friend, huh?
***
“So, your mother is a Gaul?”
Aku mengangguk
sekenanya. Ingin sekali aku pergi dari sini secepatnya. Suasana seketika
menghening saat dari pintu muncul seorang guru dengan wajah yang ‘killer’.
“Keluarkan
kertas selembar. Kita langsung ulangan. Dan untuk Anandia, kamu duduk saja.
Tidak perlu mengikuti ulangan hari ini,” Ucap Guru tersebut.
“She said that you...”
“Saya mengerti maksud Guru itu. Terima
kasih.” Ujarku dengan nada sinis. Ratih diam membisu dan lalu menulis di
kertas kosong yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Suasana kelas
yang hening sungguh mendamaikanku hari ini. Dari tadi yang kulakukan hanya
menahan senyum melihat ekspresi muka setiap anak-anak di kelas itu. Tatapan ku
beralih ke sosok yang tiba-tiba berdiri dan melangkah ke arah meja guru. Keyfa.
“Kamu yakin
dengan jawabanmu, Keyfa?” Tanya Guru itu dengan nada yang curiga.
“Yakin 100
persen, Sensei! Bahasa Jepang kan
Bahasa Ibu saya,” Jawab Keyfa dengan humor.
Tatapanku terus
menancap ke arah Keyfa sampai dia meninggalkan kelas. Dari sudut mataku, aku
menangkap suatu gerakkan aneh di sampingku. Saat aku menengok, aku melihat
Ratih mengeluarkan sebuah buku dari laci meja.
“What are you doing?” Tanpa sadar aku
berteriak terlalu keras hingga perhatian seisi kelas terpusat padaku dan Ratih.
Cepat-cepat Ratih memasukkan kembali buku tadi.
“Ada apa,
Anandia? Tanya Pak Guru yang sudah berdiri di sampingku.
“Ratih
mengeluarkan sebuah buku dari laci, Sir!”
Jawabku sejujurnya.
Pak Guru itu
menangkat alis. “Benar begitu, Ratih?”
Ratih
menggeleng cepat. Lalu Guru itu memasukkan tangannya dan menarik sebuah buku.
Dibukanya buku itu. Kembali kulihat alis Guru itu menaik.
“Kamu boleh
menyusul Keyfa keluar kelas, Ratih.” Perintah Pak Guru.
“Ta—tapi,
sa-saya belum selesai, Sensei.” Ujar
Ratih dengan gagap.
“Tidak apa-apa.
Lagipula kertas ujianmu tak akan diperiksa oleh Bapak. Silahkan meninggalkan
kelas.” Ucap Pak Guru dan berjalan kembali ke mejanya.
Ratih sontak
menoleh ke arahku dengan tatapan berang sebelum ia keluar kelas. Aku bingung.
Apa salahku?
***
“Lo kok jahat
gitu, sih?” Serbu Ratih setelah Guru Bahasa Jepang itu meninggalkan kelas.
Aku diam. Tidak
tahu harus membalas bagaimana.
“Apaan, sih?”
Keyfa menyeruak dari kerumunan murid-murid yang sudah mengelilingiku. Sebagian
diantaranya kesal dengan ulahku. Sebagiannya lagi ingin tahu apa yang akan
terjadi.
“Gara-gara
Artha gue kena sama Sensei!” Adu
Ratih.
“Apa salah
saya?” Tanyaku bingung. Lalu kerumunan tersebut membisikkan kata-kata yang tak
bisa aku dengar.
“Lo polos
banget, sih? Apa salah gue sama lo? Gue udah baik sama lo. Gue bersedia bantuin
lo kalau lo perlu apa-apa. Gue mau berteman sama lo. Apa salah gue, hah?!”
Bentak Ratih.
Tidak semua
kata-kata Ratih dapat aku tangkap. Tapi ada satu kalimat yang langsung
tertancap di otakku.
Aku lalu
menatap bengis ke arah Ratih. Kerumunan itu sontak terdiam melihat tatapanku.
“Sejak awal, saya tak pernah mengakui anda sebagai teman saya.”
***
Aku menunggu
sopir Ayah datang menjemput. Sudah lebih dari 10 menit aku menunggu. Apakah tak
ada satu pun dari orang-orang di negara ini yang bisa datang tepat waktu?
“Hey!”
Aku terlonjak
mendengar suara itu. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati Keyfa sedang
berjalan ke arahku.
“Ngapain lo?”
Tanyanya.
“Waiting.” Jawabku.
“Mau gue
temenin?”
Refleks aku
melongo. Dia menawarkan bantuan? Serius?
“Errr...
Bukannya apa-apa. Tapi gue nggak tega liat cewek sendirian sore-sore begini. Apalagi
cewek kayak lo. Terlalu menggoda buat diculik,” Tambahnya.
Aku mengangguk
singkat. Tidak baik menolak kebaikkan. Keyfa berdiri di sampingku sembari
memainkan handphonenya.
“Untung gue
langsung pindah tempat duduk. Bisa-bisa sekarang gue ada di posisi Ratih.”
Keyfa terkekeh. “Tapi lo keren banget tadi siang. Lo bisa ngebungkam seorang
Ratih yang terkenal dengan debatannya yang mematikan.”
“Terima kasih,”
Ujarku singkat.
Hening. Aku
tidak tahan. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Keyfa. Tapi
aku terlalu malas bertanya lebih dahulu kepada orang asing.
“Yang lo
lakukan nggak salah kok. Serius.” Ucap Keyfa tiba-tiba membuat aku tersentak.
“Really? Tapi kenapa mereka semua seperti
itu?” Tak tahan aku menumpahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Yaa..
Bagaimana ya gue jelasinnya? Err.. Intinya lo nggak salah, deh.”
“Saya masih tak
mengerti.”
“Gini deh. Lo
punya temen yang melakukan kejahatan dan lo lapor itu ke orang lain. Di satu pihak
lo berbuat baik, di lain pihak temen lo ngerasa dikhianati. Ngerti, kan?” Jelas
Keyfa.
Teman?
Dikhianati? Apa yang mereka tahu tentang itu? Huh.
“Muncul lagi
deh senyum jahatnya.”
Aku tersadar
dari lamunanku. “What?”
“Lo ngerti kan
maksud gue tadi?”
“Tidak,” Aku
mengambil napas dalam. “Pertama, Ratih bukan teman saya. Kedua, bagaimana saya
bisa mengkhianati saat dia memang bukan teman saya?”
“Ya memang
Ratih yang ngaku-ngaku, sih. Tapi kan...”
“Saya tak
pernah bilang kalau dia teman saya.”
“Umumnya saat
orang melakukan perkenalan, itulah awal sebuah pertemanan.”
“If that so, i don’t want to know everybody.”
“Lo kenapa,
sih?”
Aku menundukkan
kepalaku. Semua ingatan itu langsung menyerbuku. “Last time I had a friend, I gave all I had to her, and what she did
just stab me. She dated my boyfriend. She said many bad things about me to her
another friends. I was so idiot,”
Hening. Aku
menengadahkan kepala dan mendapati Keyfa sedang menatap bingung ke arahku. Is he deaf?
“Terus apa itu
berarti semua orang yang akan berteman dengan lo punya niat untuk menghancurkan
lo?”
Deg. Seperti
sebuah tombak yang mempunyai ujung runcing, perkataannya langsung menembus
otakku.
“Temen lo yang
dulu itu memang salah. Tapi lo harus jadikan itu pelajaran. Bukan kenangan
buruk. Bukan dijadiin tameng buat masa depan lo.”
“Jadi, saya
salah?” Aku mendengus kesal.
“Yap.”
Aku melirik
sinis padanya. “Saya harus minta maaf kepada Ratih?”
“Absolutely.”
"Karena?"
"Karena lebih baik lo minta maaf walaupun lo nggak salah, daripada lo keras kepala selalu benar."
"Karena?"
"Karena lebih baik lo minta maaf walaupun lo nggak salah, daripada lo keras kepala selalu benar."
Aku balikkan
badanku menghadapnya, memiringkan kepalaku, dan menyipitkan mataku.
Menantangnya.
“Maksud gue, dia juga harus minta
maaf sama lo. Kalian berdua saling minta maaf. Yaelah, serem banget sih lo!”
Ucapnya cepat-cepat. “Dan lo pernah denger kata-kata Abraham Lincoln nggak?
Kata dia ‘Am I not destroying my enemies when I make friends of
them?’”
Aku balikkan
lagi badanku. Berusaha meresapi semua kata-kata Keyfa. Dia ada benarnya. Tidak
baik membawa kenangan burukmu ke masa depanmu. Tapi tetap saja rasanya hati ini
masih sakit mengingat pengkhianatan Rhannadine.
“Kalau lo ngerasa
masih susah buat maafin, nggak usah dipaksa. Saran gue sih lo mulai sesuatu
yang baru. Tuhan ngasih lo hal yang buruk supaya lo siap dengan hal yang
menyenangkan.” Jelas Keyfa seolah bisa membaca pikiranku.
“Walaupun anda
orang yang messy, jalan pikiran anda
ternyata bagus juga.” Ucapku ogah-ogahan.
Bisa
kulihat
dengan sudut mataku Keyfa meringis. “Lo tuh harus belajar bagaimana
caranya supaya nggak terlalu polos tahu nggak?” Keyfa memalingkan
mukanya melihat ke jalan dengan tatapan
kesal.
“Could you help me then?”
Keyfa menengok
ke arahku. “Bantu apa?”
“Belajar menjadi orang yang nggak terlalu polos.”
Kulihat orang
itu tersenyum. Senyum yang berbeda dengan yang pernah kulihat. “Tentu.”
Aku menghela
napas dan dengan cepat mengulurkan tanganku ke arahnya.
“Apa?” Tanya
Keyfa bingung.
“You said that i have to start the new one.
So, i want to start it from you.” Aku pasti bisa. “Nama saya Anandia Martha
Yuniati. Anda bisa panggil saya Artha. Nice
to know you.”
Keyfa membeku
cukup lama. Tanganku belum bergeming sedari tadi. Tapi nyaliku sudah ciut
duluan. Perlahan kutarik kembali tanganku. Tapi tiba-tiba tangan Keyfa sudah
menggenggam tanganku.
“Keyfa Rusyadi.
Lo panggil gue Keyfa aja. Dan sebagai pelajaran pertama gue ke lo, gue akan
ubah kata ‘saya-anda’ kamu setidaknya menjadi ‘aku-kamu’.” Ucap Keyfa dengan
senyum termanisnya.
============================
Oke (~_~) Udah lama gue nggak buat cerpen sama fanfict. Maklum gue lagi sibuk sama pelajaran di sekolah. Cerpen ini meaningnya nggak kuat banget, sih. Tapi cukuplah untuk sekedar penyegar otak (Buat gue, sih. Hehehe) :)
Sign (Skip 2)
Mungkin ada beberapa followers twitter gue yang menganggap gue fanatik dengan horoskop. Itu salah besar -___-
Gue orang yang ngebaca horoskop dan 5 menit kemudian lupa dengan isi horoskop tersebut. Tapi saat gue baca fakta tentang kepribadian sign, baru gue suka. Kenapa? Kan, aneh aja kalau orang lain bisa baca kepribadian orang lain dengan sign doang? Yaaaa untung2 kalau bener. Kalau salah ya sama gue juga diabaikan kok. Nah masalahnya acc twitter horoskop di tl gue kadang2 bener -_- benernya itu bikin jleb.
Jadi jangan aneh kalau liat gue ngeretweet dan ngefavoritekan beberapa tweet. Karna itu emang gue banget -__-
Thursday, November 8, 2012
Skip 1
Saat ada yang salah tapi kau tak merasakan apa-apa.
Saat kenangan buruk datang menyerang tapi kau tersenyum.
Saat kau melihat semuanya bersama volume keras dari musik di headsetmu tapi kau hanya memiringkan kepala.
Apa yang terjadi?
Saat kenangan buruk datang menyerang tapi kau tersenyum.
Saat kau melihat semuanya bersama volume keras dari musik di headsetmu tapi kau hanya memiringkan kepala.
Apa yang terjadi?
Friday, October 12, 2012
Pray
Semalem Bokap jemput gue di GO. Padahal gue udah bawa motor. Yaudah gue jemput deh dia di mie ayam crispy deket GO. Dari jauh gue lihat dia lagi makan. Dan baru gue sadari, betapa tua dia saat ini. Riesa pernah ngomong ke gue bagaimana dia baru sadar bagaimana mamanya sudah bertambah tua. Dan gue baru sadar detik itu juga. Mindset gue selalu berpikir atau merasa bahwa hanya diri gue aja yang bertambah tua. Gue selalu merasa ortu gue segitu-gitu aja. Memang gue salah. Dan baru sadar.
Semalem gue nangis. Gue mikirin ortu gue. Pikiran gue simple aja. Gue belum kepengen kehilangan mereka berdua. FYI, gue bukan tipe anak yang suka cerita ke ortu. Yang gue ceritain ke ortu gue hanya apa yang mereka perlu tahu saja. Gue nggak pernah cerita soal masalah pertemenan gue, bagaimana gue di sekolah, dll. Yang mereka tahu adalah apa yang gue dapat dari pelajaran di sekolah. Just that. Temen-temen gue yang mereka tahu saja cuma beberapa.
Bukan. Bukan karna gue nggak suka mereka ikut campur. Tapi gue nggak mau mereka berfikir yang macam-macam dan khawatir yang berlebihan. Gue cukup ingin menunjukkan kepada mereka kalau gue kuat. Kalau gue tegar. Walaupun gue nggak begitu. Walaupun gue suka nangis diam-diam di kamar kalau ada masalah berat. Bukan karna apa-apa. Gue cuma pengen yang mereka ketahui bahwa gue bahagia. (Oke, dalam konteks ini bukan berarti gue nggak bahagia ye.)
Tapi itu tidak menunjukkan bahwa gue nggak deket sama ortu gue. Nggak. Gue deket, kok. Tapi gue punya dunia dimana ortu gue cukup main di belakang layar saja. Biar gue saja yang akting di panggung. Biar gue sendiri yang ngerasain semuanya. Mereka hanya perlu kasih support dan menjadi orang yang pertama yang gue datengin dan bilang "Ibu, Bapak, aku berhasil!"
Masalah di luar sekolah dan keluarga, gue selesaikan sendiri. Gue nggak pernah minta saran sama ortu. Gue nggak pernah curhat sama mereka. Keberadaan mereka di rumah saja sudah cukup buat ngasih "support bisu" ke gue. Dan itu lah yang gue doakan kemarin. Gue pengen mereka berdua masih ada buat gue sampai gue sudah siap jika suatu hari mereka dipanggil oleh Allah SWT. Cuma kehadiran dan kasih sayang mereka saja yang gue butuhkan sekarang. Gue belum mau mereka pergi dalam waktu dekat. Gue masih butuh "support bisu" mereka.
Cita-cita terdalam gue adalah bisa beliin apapun yang ortu gue mau. Gue pengen saat mereka ngeluh sesuatu nanti, gue bisa memperbaikinya. Gue pengen bisa jadi orang yang akan mereka banggakan. It's simple. Seperti gue hidup untuk nyokap-bokap gue. Untuk kebahagiaan mereka.
Wednesday, October 3, 2012
MoodBooster now: Cloudy sky
Di tengah kesibukkan gue dengan LKS, gue masih bisa sempet-sempetnya buat postingan di Blog. Yeah, that's my skill. Soalnya, seorang kakak kelas yang jago dalam sastra pernah bilang sama gue.
Saat kau menemukan sebuah kata-kata fantastik, cepatlah tulis.
Yeah!! Berhubung gue adalah orang yang jarang jarang jarang jarang sekali dapet inspirasi buat nulis, jadi gue harus cepat-cepat menumpahkannya saat dapat inspirasi.
Gue lagi capek. Banyak cobaan sejak dimulainya pembelajaran kelas 3 ini. Untungnya gue nggak ada masalah keluarga. Gue nggak akan jabarin masalah apa aja yang lagi gue hadapin. Cukup satu aja. Masalah sekolah.
Pr numpuk gila -_- Minggu depan UTS pula. Heuhhhh. Intinya gue udah capek. Rasanya gue ke sekolah aja setengah hati. Pulang ke rumah, masih setengah hati juga. Gue merasa nyawa gue udah dibagi kemana-mana. Nggak ada yang benar. Tiap ada waktu kosong, gue pakai buat berpikir melalang buana. Hal itu menjadikan gue sensitif dan gampang marah. Terbukti bagaimana gue udah buat berbagai kekacauan. Tapi, masa bodoh. Selama kehidupan nyata gue baik-baik saja, gue nggak akan kenapa-kenapa. Motto gue pada saat ini: Buanglah apapun yang mengganggumu dan jangan biarkan itu kembali lagi.
Di tengah semua itu gue berharap ada sesuatu yang menjadi moodbooster gue. Alhamdulillah Allah melimpahkan karunia-Nya. Dihadirkannya mendung belakangan ini. Gue menjadi lebih damai walau di dalamnya gue masih ruwet.
Mendung. God! I love it so damn much! Kenapa gue bisa suka sama suasana itu? Melihat langit dari warna sesungguhnya sangat menentramkan jiwa gue. Berbagai pikiran positif datang pada gue. Jadi, buat kalian yang merasa perlu waktu "baik" untuk berbicara dengan Anggun, biacaralah padanya saat mendung. Surely, gue bakal memberikan tanggapan positif.
Tapi selain hal positif, yang gue dapet saat mendung adalah flashback. Memang nggak bagus untuk memandang ke belakang. Apalagi itu adalah kejadian buruk yang membuat sakit hati. Uh. Tapi, saat mendung, adegan flashback itu datang secara perlahan dan lembut. Membuat kita merindukan adegan-adegan yang kita renungkan. Kerinduan yang lembut itu yang gue sukai. Rasanya seperti semua kekuatan lo datang and like you never ever meet something called sadness. It makes everything ok.
Itu lah kekuatan gue saat ini. Gue nggak habis-habisnya bersyukur kepada Allah SWT karna sudah menciptakan suasana mendung. Walau kadang-kadang ngebuat gue galau, tapi gue lebih banyak dapat hal positifnya.
I ADORE CLOUDY SO FUCKING MUCH
Sunday, September 30, 2012
Cycle of Life
Gue sendiri nggak ngerti kenapa gue kebelet pengen buat postingan ini. Gue cuma merasa ada sesuatu yang mendesak keluar. Gue udah nggak bisa ngelimpahin semuanya ke aplikasi social network yang lain. Blog dirasa paling aman karna jarang orang yang melihatnya. Just they are who really do want to know something about me. Jadi postingan2 blog yang berisi curhatan atau petuah nggak akan gue share di twitter lagi. Tapi, ngapain juga ya gue ngasih petuah tapi nggak disebarin? -_- Ya menghindari dari hal yang buruk saja.
Back to the topic, gue selalu salut dengan bagaimana siklus hidup berlangsung. Selalu memberikan hal mengejutkan ke kita. Bahkan siklus hidup dapat memberikan hal yang sama berulang kali tapi dengan jalan yang berbeda. Bagaiamana seseorang bisa jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Pernah ngerasain?
Gue pernah ngerasain "sudah jatuh tertimpa tangga". Rasanya sakit sebagaimana luka yang belum sembuh diberi tetesan jeruk nipis. Gue adalah orang yang butuh waktu lama buat nyembuhin luka. Dan lebih buruknya, gue orang yang gampang terluka. Okay, it sounds so "lebay" -_- Tapi beneran deh. Gue orang yang gampang marah tapi cepat buat memaafkan. Walaupun sakit dari lukanya masih ada.
Ada yang bilang kehidupan itu kayak roda. Pasti pernah di atas, pernah di bawah. Lama waktu kau di atas dan di bawa pasti akan sama. Kalau merasa tidak sama, lihat lebih seksama. Hidup tuh adil. Karna Allah SWT yang membuatnya adalah Maha Adil. Gue nggak tahu bagaimana dan kapan Allah akan membalas pengorbanan dan keegoisan gue selama gue hidup. Tapi gue percaya pasti adil. Dia-lah yang sangat aku percayai.
Hal yang buruk di dunia ini gue anggap adalah pelengkap untuk menyeimbangkan hidup. Kau tak tahu bagaimana indahnya senyuman sebelum kau merasakan pahitnya tangisan. Kau tak tahu bagaimana berharganya sebuah pertemuan sebelum kau merasakan sakitnya perpisahan.
Pertemuan-perpisahan. Ada yang lama, ada yang singkat. Menurut gue pertemuan yang paling lama adalah pertemuan dengan keluarga inti. Dan pertemuan yang paling singkat menurut gue adalah pertemuan di dunia maya. Gue nggak usah kasih komen dengan argumen gue yang pertama, kan? Kalau yang kedua, err, gue udah ngerasain. Buktinya macam Norman, Jojo-Shinta, dan si Udin itu. Mereka memang sangat terkenal pada masanya. Tapi sekarang? Gue udah nggak denger kabar mereka lagi tuh -_-
Begitulah siklus hidup. Saling bertolak belakang. Saling melengkapi. You don't know how it's going to work. You just can prepare for the best and the worst. But, keep my words:
You are not the highest nor the lowest. So don't be selfish and always be grateful.
Subscribe to:
Posts (Atom)
