Saturday, December 15, 2012

Misery Business - Paramore

I'm in the business of misery, let's take it from the top  
She's got a body like an hourglass that's ticking like a clock 
It's a matter of time before we all run out  
But when I thought he was mine she caught him by the mouth
 
I waited eight long months, she finally set him free  

I told him I couldn't lie, he was the only one for me 
Two weeks and we caught on fire  
She's got it out for me but I wear the biggest smile
 
Whoa, I never meant to brag  

But I got him where I want him now  
Whoa, it was never my intention to brag  
To steal it all away from you now
 
But God, does it feel so good  

'Cause I got him where I want him now 
And if you could then you know you would  
'Cause God, it just feels so 
It just feels so good
 
Second chances they don't ever matter, people never change  

Once a whore, you're nothing more, I'm sorry, that'll never change  
And about forgiveness we're both supposed to have exchanged  
I'm sorry honey but I passed it up, now look this way
 
Well there's a million other girls who do it just like you  

Looking as innocent as possible to get to who,
They want and what they like, it's easy if you do it right 
Well I refuse, I refuse, I refuse!
 
Whoa, I never meant to brag  

But I got him where I want him now  
Whoa, it was never my intention to brag  
To steal it all away from you now
 
But God, does it feel so good 

'Cause I got him where I want him right now  
And if you could then you know you would 
'Cause God, it just feels so 
It just feels so good
 
I watched his wildest dreams come true  

And not one of them involving you  
Just watch my wildest dreams come true  
Not one of them involving
 
Whoa, I never meant to brag 

But I got him where I want him now
 
Whoa, I never meant to brag  

But I got him where I want him now  
Whoa, it was never my intention to brag 
 To steal it all away from you now
 
But God, does it feel so good  

'Cause I got him where I want him now  
And if you could then you know you would 
'Cause God, it just feels so 
It just feels so good

Friday, November 9, 2012

Teman Pertama

“Hello, My name is Anandia Martha Yuniati,”
Seseorang mengacungkan tangannya. Seorang laki-laki dengan penampilan paling berantakkan yang pernah aku temui.
“Lo bisa bahasa Indonesia nggak, sih? Nggak usah sok formal pakai bahasa Inggris hanya karna lo sekolah di Sekolah Internasional deh,”
Semua murid di kelas itu sontak tersenyum-seyum menahan tawa. Bagian mana yang lucunya?
“Jaga sikapmu, Keyfa!” Tegur Bu Guru.
“Little bit,” Balasku datar. “Boleh saya duduk sekarang, Ma’am?”
“Tentu tentu.......” Bu Guru itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas. “Kamu duduk dengan Keyfa saja. Kebetulan teman duduknya sedang absen.”
Aku mengangkat alisku. Dengan orang itu? Tidak salah? Aku akan membantah ketika kuamati lekat-lekat wajah guruku. Wajah yang sangat ramah. Kata-kata yang sudah diujung lidahku harus ku telan kembali. Aku mengangguk hormat lalu berjalan ke tempat aku harus duduk.
“Jadi, Anan....”
Aku banting pelan tasku lalu duduk. Aku tidak ingin membuat kekacauan di hari pertamaku. “Panggil saya Artha,”
Orang itu tersenyum mengenjek. Betul-betul tampang yang sangat menyebalkan.
“Terserah deh. Jadi, lo itu bule, hah?”
Aku pandang laki-laki itu. “Apa maksud anda dengan kata ‘bule’ tadi?”
Laki-laki bernama Keyfa itu melongo. Aku mendengus melihat ekspresinya itu. “Jujur, saya kagum dengan namamu. It’s a good name. But it’s not suit with your attitude,” Komentarku.
Wajah laki-laki itu semakin tak terkontrol. Sungguh pemandangan yang lucu.
***
“You came from France? Really?”
“Why do you come back to Indonesia? France is better than Indonesia, isn’t it?”
“How the guy in there? Omg!! I want to go to France someday,”
“Kalian apa-apaan, sih?! Norak tahu nggak. Dia tuh orang Indonesia. Nggak usah sok ngomong pakai Bahasa Inggris. Bahasa nasional kita kan Bahasa Indonesia. Urusan dia kalau dia nggak ngerti apa yang kita omongin!”
Aku terperanjat mendengar suara keras Keyfa. Untung saja Bu Guru tadi sudah keluar. Aku tak ingin melihat wanita seperti dia marah-marah. Aku memang berasal dari Perancis. Mamaku adalah orang Perancis dan ayahku orang Indonesia. Akibatnya aku mempunyai rambut hitam legam, badan proporsional, kulit yang lebih putih dari orang asia umumnya, dan mata berwarna abu-abu. Aku tinggal di Indonesia dari lahir hingga umur 7 tahun. Lalu ayahku ditugaskan ke Perancis, hingga aku kembali ke Indonesia lagi.
“Ih, Keyfa! Biasa aja kali. Reaksi lo lebay tahu,” Ujar perempuan yang memperkenalkan dirinya dengan nama Ratih.
Aku mengerutkan alis. “Apa itu ‘lebay’?”
“It means... Umm.. Acting more than it should be,” Balas Ratih dengan senyum yang super ramah. Tapi ramah yang terlalu dibuat-buat.
Aku lihat Keyfa menggedikkan bahu seperti merinding kedinginan. “Norak banget sih lo, Ratih! Dia aja nanyanya pakai Bahasa Indonesia, lo jawabnya sok pakai Bahasa Inggris. Reva! Tuker bangku, yuk! Bisa mendadak gila gue disini,” Teriak Keyfa ke salah satu laki-laki di sudut kelas.
“Nggak, deh. Lo sih duduk di depan. Hari ini ulangan Bahasa Jepang. Kan gue ogah ulangan berhadapan langsung dengan Sensei.” Teriak laki-laki yang dipanggil Reva tadi. Keyfa mendengus karna harus menerima nasibnya terperangkap denganku.
“Yaudeh. Lo tuker sama gue aja, Fa! Noh, lo duduk sama Megan. Biar gue duduk sama Artha...” Ratih menengok ke arahku dengan wajah yang berseri-seri. “Is it okay if i’m being your chairmate?”
Belum sempat aku membalas ucapannya, dia sudah melenggang pergi dan kembali membawa tas. Lalu dia melakukan gerakkan seperti mengusir Keyfa. Bagian kecil dariku tak ingin Keyfa pergi. Lebih baik aku terperangkap dengannya daripada dengan Ratih.
“If you need something, you can ask me. This is my job as your friend.” Ujar Ratih yang sudah duduk di sampingku.
Friend, huh?
***
“So, your mother is a Gaul?”
Aku mengangguk sekenanya. Ingin sekali aku pergi dari sini secepatnya. Suasana seketika menghening saat dari pintu muncul seorang guru dengan wajah yang ‘killer’.
“Keluarkan kertas selembar. Kita langsung ulangan. Dan untuk Anandia, kamu duduk saja. Tidak perlu mengikuti ulangan hari ini,” Ucap Guru tersebut.
“She said that you...”
“Saya mengerti maksud Guru itu. Terima kasih.” Ujarku dengan nada sinis. Ratih diam membisu dan lalu menulis di kertas kosong yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Suasana kelas yang hening sungguh mendamaikanku hari ini. Dari tadi yang kulakukan hanya menahan senyum melihat ekspresi muka setiap anak-anak di kelas itu. Tatapan ku beralih ke sosok yang tiba-tiba berdiri dan melangkah ke arah meja guru. Keyfa.
“Kamu yakin dengan jawabanmu, Keyfa?” Tanya Guru itu dengan nada yang curiga.
“Yakin 100 persen, Sensei! Bahasa Jepang kan Bahasa Ibu saya,” Jawab Keyfa dengan humor.
Tatapanku terus menancap ke arah Keyfa sampai dia meninggalkan kelas. Dari sudut mataku, aku menangkap suatu gerakkan aneh di sampingku. Saat aku menengok, aku melihat Ratih mengeluarkan sebuah buku dari laci meja.
“What are you doing?” Tanpa sadar aku berteriak terlalu keras hingga perhatian seisi kelas terpusat padaku dan Ratih. Cepat-cepat Ratih memasukkan kembali buku tadi.
“Ada apa, Anandia? Tanya Pak Guru yang sudah berdiri di sampingku.
“Ratih mengeluarkan sebuah buku dari laci, Sir!” Jawabku sejujurnya.
Pak Guru itu menangkat alis. “Benar begitu, Ratih?”
Ratih menggeleng cepat. Lalu Guru itu memasukkan tangannya dan menarik sebuah buku. Dibukanya buku itu. Kembali kulihat alis Guru itu menaik.
“Kamu boleh menyusul Keyfa keluar kelas, Ratih.” Perintah Pak Guru.
“Ta—tapi, sa-saya belum selesai, Sensei.” Ujar Ratih dengan gagap.
“Tidak apa-apa. Lagipula kertas ujianmu tak akan diperiksa oleh Bapak. Silahkan meninggalkan kelas.” Ucap Pak Guru dan berjalan kembali ke mejanya.
Ratih sontak menoleh ke arahku dengan tatapan berang sebelum ia keluar kelas. Aku bingung. Apa salahku?
***
“Lo kok jahat gitu, sih?” Serbu Ratih setelah Guru Bahasa Jepang itu meninggalkan kelas.
Aku diam. Tidak tahu harus membalas bagaimana.
“Apaan, sih?” Keyfa menyeruak dari kerumunan murid-murid yang sudah mengelilingiku. Sebagian diantaranya kesal dengan ulahku. Sebagiannya lagi ingin tahu apa yang akan terjadi.
“Gara-gara Artha gue kena sama Sensei!” Adu Ratih.
“Apa salah saya?” Tanyaku bingung. Lalu kerumunan tersebut membisikkan kata-kata yang tak bisa aku dengar.
“Lo polos banget, sih? Apa salah gue sama lo? Gue udah baik sama lo. Gue bersedia bantuin lo kalau lo perlu apa-apa. Gue mau berteman sama lo. Apa salah gue, hah?!” Bentak Ratih.
Tidak semua kata-kata Ratih dapat aku tangkap. Tapi ada satu kalimat yang langsung tertancap di otakku.
Aku lalu menatap bengis ke arah Ratih. Kerumunan itu sontak terdiam melihat tatapanku. “Sejak awal, saya tak pernah mengakui anda sebagai teman saya.”
***
Aku menunggu sopir Ayah datang menjemput. Sudah lebih dari 10 menit aku menunggu. Apakah tak ada satu pun dari orang-orang di negara ini yang bisa datang tepat waktu?
“Hey!”
Aku terlonjak mendengar suara itu. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati Keyfa sedang berjalan ke arahku.
“Ngapain lo?” Tanyanya.
“Waiting.” Jawabku.
“Mau gue temenin?”
Refleks aku melongo. Dia menawarkan bantuan? Serius?
“Errr... Bukannya apa-apa. Tapi gue nggak tega liat cewek sendirian sore-sore begini. Apalagi cewek kayak lo. Terlalu menggoda buat diculik,” Tambahnya.
Aku mengangguk singkat. Tidak baik menolak kebaikkan. Keyfa berdiri di sampingku sembari memainkan handphonenya.
“Untung gue langsung pindah tempat duduk. Bisa-bisa sekarang gue ada di posisi Ratih.” Keyfa terkekeh. “Tapi lo keren banget tadi siang. Lo bisa ngebungkam seorang Ratih yang terkenal dengan debatannya yang mematikan.”
“Terima kasih,” Ujarku singkat.
Hening. Aku tidak tahan. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Keyfa. Tapi aku terlalu malas bertanya lebih dahulu kepada orang asing.
“Yang lo lakukan nggak salah kok. Serius.” Ucap Keyfa tiba-tiba membuat aku tersentak.
“Really? Tapi kenapa mereka semua seperti itu?” Tak tahan aku menumpahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Yaa.. Bagaimana ya gue jelasinnya? Err.. Intinya lo nggak salah, deh.”
“Saya masih tak mengerti.”
“Gini deh. Lo punya temen yang melakukan kejahatan dan lo lapor itu ke orang lain. Di satu pihak lo berbuat baik, di lain pihak temen lo ngerasa dikhianati. Ngerti, kan?” Jelas Keyfa.
Teman? Dikhianati? Apa yang mereka tahu tentang itu? Huh.
“Muncul lagi deh senyum jahatnya.”
Aku tersadar dari lamunanku. “What?”
“Lo ngerti kan maksud gue tadi?”
“Tidak,” Aku mengambil napas dalam. “Pertama, Ratih bukan teman saya. Kedua, bagaimana saya bisa mengkhianati saat dia memang bukan teman saya?”
“Ya memang Ratih yang ngaku-ngaku, sih. Tapi kan...”
“Saya tak pernah bilang kalau dia teman saya.”
“Umumnya saat orang melakukan perkenalan, itulah awal sebuah pertemanan.”
“If that so, i don’t want to know everybody.”
“Lo kenapa, sih?”
Aku menundukkan kepalaku. Semua ingatan itu langsung menyerbuku. “Last time I had a friend, I gave all I had to her, and what she did just stab me. She dated my boyfriend. She said many bad things about me to her another friends. I was so idiot,”
Hening. Aku menengadahkan kepala dan mendapati Keyfa sedang menatap bingung ke arahku. Is he deaf?
“Terus apa itu berarti semua orang yang akan berteman dengan lo punya niat untuk menghancurkan lo?”
Deg. Seperti sebuah tombak yang mempunyai ujung runcing, perkataannya langsung menembus otakku.
“Temen lo yang dulu itu memang salah. Tapi lo harus jadikan itu pelajaran. Bukan kenangan buruk. Bukan dijadiin tameng buat masa depan lo.”
“Jadi, saya salah?” Aku mendengus kesal.
“Yap.”
Aku melirik sinis padanya. “Saya harus minta maaf kepada Ratih?”
“Absolutely.”  
"Karena?"
"Karena lebih baik lo minta maaf walaupun lo nggak salah, daripada lo keras kepala selalu benar."
Aku balikkan badanku menghadapnya, memiringkan kepalaku, dan menyipitkan mataku. Menantangnya.
“Maksud gue, dia juga harus minta maaf sama lo. Kalian berdua saling minta maaf. Yaelah, serem banget sih lo!” Ucapnya cepat-cepat. “Dan lo pernah denger kata-kata Abraham Lincoln nggak? Kata dia ‘Am I not destroying my enemies when I make friends of them?’”

Aku balikkan lagi badanku. Berusaha meresapi semua kata-kata Keyfa. Dia ada benarnya. Tidak baik membawa kenangan burukmu ke masa depanmu. Tapi tetap saja rasanya hati ini masih sakit mengingat pengkhianatan Rhannadine.
“Kalau lo ngerasa masih susah buat maafin, nggak usah dipaksa. Saran gue sih lo mulai sesuatu yang baru. Tuhan ngasih lo hal yang buruk supaya lo siap dengan hal yang menyenangkan.” Jelas Keyfa seolah bisa membaca pikiranku.
“Walaupun anda orang yang messy, jalan pikiran anda ternyata bagus juga.” Ucapku ogah-ogahan.
Bisa kulihat dengan sudut mataku Keyfa meringis. “Lo tuh harus belajar bagaimana caranya supaya nggak terlalu polos tahu nggak?” Keyfa memalingkan mukanya melihat ke jalan dengan tatapan kesal.
“Could you help me then?”
Keyfa menengok ke arahku. “Bantu apa?”
“Belajar menjadi orang yang nggak terlalu polos.”
Kulihat orang itu tersenyum. Senyum yang berbeda dengan yang pernah kulihat. “Tentu.”
Aku menghela napas dan dengan cepat mengulurkan tanganku ke arahnya.
“Apa?” Tanya Keyfa bingung.
“You said that i have to start the new one. So, i want to start it from you.” Aku pasti bisa. “Nama saya Anandia Martha Yuniati. Anda bisa panggil saya Artha. Nice to know you.”
Keyfa membeku cukup lama. Tanganku belum bergeming sedari tadi. Tapi nyaliku sudah ciut duluan. Perlahan kutarik kembali tanganku. Tapi tiba-tiba tangan Keyfa sudah menggenggam tanganku.
“Keyfa Rusyadi. Lo panggil gue Keyfa aja. Dan sebagai pelajaran pertama gue ke lo, gue akan ubah kata ‘saya-anda’ kamu setidaknya menjadi ‘aku-kamu’.” Ucap Keyfa dengan senyum termanisnya.
============================
 Oke (~_~) Udah lama gue nggak buat cerpen sama fanfict. Maklum gue lagi sibuk sama pelajaran di sekolah. Cerpen ini meaningnya nggak kuat banget, sih. Tapi cukuplah untuk sekedar penyegar otak (Buat gue, sih. Hehehe) :) 

Sign (Skip 2)

Mungkin ada beberapa followers twitter gue yang menganggap gue fanatik dengan horoskop. Itu salah besar -___-
Gue orang yang ngebaca horoskop dan 5 menit kemudian lupa dengan isi horoskop tersebut. Tapi saat gue baca fakta tentang kepribadian sign, baru gue suka. Kenapa? Kan, aneh aja kalau orang lain bisa baca kepribadian orang lain dengan sign doang? Yaaaa untung2 kalau bener. Kalau salah ya sama gue juga diabaikan kok. Nah masalahnya acc twitter horoskop di tl gue kadang2 bener -_- benernya itu bikin jleb.
Jadi jangan aneh kalau liat gue ngeretweet dan ngefavoritekan beberapa tweet. Karna itu emang gue banget -__-

Thursday, November 8, 2012

Skip 1

Saat ada yang salah tapi kau tak merasakan apa-apa.
Saat kenangan buruk datang menyerang tapi kau tersenyum.
Saat kau melihat semuanya bersama volume keras dari musik di headsetmu tapi kau hanya memiringkan kepala.

Apa yang terjadi?

Friday, October 12, 2012

Pray

Semalem Bokap jemput gue di GO. Padahal gue udah bawa motor. Yaudah gue jemput deh dia di mie ayam crispy deket GO. Dari jauh gue lihat dia lagi makan. Dan baru gue sadari, betapa tua dia saat ini. Riesa pernah ngomong ke gue bagaimana dia baru sadar bagaimana mamanya sudah bertambah tua. Dan gue baru sadar detik itu juga. Mindset gue selalu berpikir atau merasa bahwa hanya diri gue aja yang bertambah tua. Gue selalu merasa ortu gue segitu-gitu aja. Memang gue salah. Dan baru sadar.

Semalem gue nangis. Gue mikirin ortu gue. Pikiran gue simple aja. Gue belum kepengen kehilangan mereka berdua. FYI, gue bukan tipe anak yang suka cerita ke ortu. Yang gue ceritain ke ortu gue hanya apa yang mereka perlu tahu saja. Gue nggak pernah cerita soal masalah pertemenan gue, bagaimana gue di sekolah, dll. Yang mereka tahu adalah apa yang gue dapat dari pelajaran di sekolah. Just that. Temen-temen gue yang mereka tahu saja cuma beberapa. 

Bukan. Bukan karna gue nggak suka mereka ikut campur. Tapi gue nggak mau mereka berfikir yang macam-macam dan khawatir yang berlebihan. Gue cukup ingin menunjukkan kepada mereka kalau gue kuat. Kalau gue tegar. Walaupun gue nggak begitu. Walaupun gue suka nangis diam-diam di kamar kalau ada masalah berat. Bukan karna apa-apa. Gue cuma pengen yang mereka ketahui bahwa gue bahagia. (Oke, dalam konteks ini bukan berarti gue nggak bahagia ye.)

Tapi itu tidak menunjukkan bahwa gue nggak deket sama ortu gue. Nggak. Gue deket, kok. Tapi gue punya dunia dimana ortu gue cukup main di belakang layar saja. Biar gue saja yang akting di panggung. Biar gue sendiri yang ngerasain semuanya. Mereka hanya perlu kasih support dan menjadi orang yang pertama yang gue datengin dan bilang "Ibu, Bapak, aku berhasil!"

Masalah di luar sekolah dan keluarga, gue selesaikan sendiri. Gue nggak pernah minta saran sama ortu. Gue nggak pernah curhat sama mereka. Keberadaan mereka di rumah saja sudah cukup buat ngasih "support bisu" ke gue. Dan itu lah yang gue doakan kemarin. Gue pengen mereka berdua masih ada buat gue sampai gue sudah siap jika suatu hari mereka dipanggil oleh Allah SWT. Cuma kehadiran dan kasih sayang mereka saja yang gue butuhkan sekarang. Gue belum mau mereka pergi dalam waktu dekat. Gue masih butuh "support bisu" mereka.

Cita-cita terdalam gue adalah bisa beliin apapun yang ortu gue mau. Gue pengen saat mereka ngeluh sesuatu nanti, gue bisa memperbaikinya.  Gue pengen bisa jadi orang yang akan mereka banggakan. It's simple. Seperti gue hidup untuk nyokap-bokap gue. Untuk kebahagiaan mereka.

Wednesday, October 3, 2012

MoodBooster now: Cloudy sky

Di tengah kesibukkan gue dengan LKS, gue masih bisa sempet-sempetnya buat postingan di Blog. Yeah, that's my skill. Soalnya, seorang kakak kelas yang jago dalam sastra pernah bilang sama gue. 
Saat kau menemukan sebuah kata-kata fantastik, cepatlah tulis.
Yeah!! Berhubung gue adalah orang yang jarang jarang jarang jarang sekali dapet inspirasi buat nulis, jadi gue harus cepat-cepat menumpahkannya saat dapat inspirasi.

Gue lagi capek. Banyak cobaan sejak dimulainya pembelajaran kelas 3 ini. Untungnya gue nggak ada masalah keluarga. Gue nggak akan jabarin masalah apa aja yang lagi gue hadapin. Cukup satu aja. Masalah sekolah.

Pr numpuk gila -_- Minggu depan UTS pula. Heuhhhh. Intinya gue udah capek. Rasanya gue ke sekolah aja setengah hati. Pulang ke rumah, masih setengah hati juga. Gue merasa nyawa gue udah dibagi kemana-mana. Nggak ada yang benar. Tiap ada waktu kosong, gue pakai buat berpikir melalang buana. Hal itu menjadikan gue sensitif dan gampang marah. Terbukti bagaimana gue udah buat berbagai kekacauan. Tapi, masa bodoh. Selama kehidupan nyata gue baik-baik saja, gue nggak akan kenapa-kenapa. Motto gue pada saat ini: Buanglah apapun yang mengganggumu dan jangan biarkan itu kembali lagi.

Di tengah semua itu gue berharap ada sesuatu yang menjadi moodbooster gue. Alhamdulillah Allah melimpahkan karunia-Nya. Dihadirkannya mendung belakangan ini. Gue menjadi lebih damai walau di dalamnya gue masih ruwet.

Mendung. God! I love it so damn much! Kenapa gue bisa suka sama suasana itu? Melihat langit dari warna sesungguhnya sangat menentramkan jiwa gue. Berbagai pikiran positif datang pada gue. Jadi, buat kalian yang merasa perlu waktu "baik" untuk berbicara dengan Anggun, biacaralah padanya saat mendung. Surely, gue bakal memberikan tanggapan positif.

Tapi selain hal positif, yang gue dapet saat mendung adalah flashback. Memang nggak bagus untuk memandang ke belakang. Apalagi itu adalah kejadian buruk yang membuat sakit hati. Uh. Tapi, saat mendung, adegan flashback itu datang secara perlahan dan lembut. Membuat kita merindukan adegan-adegan yang kita renungkan. Kerinduan yang lembut itu yang gue sukai. Rasanya seperti semua kekuatan lo datang and like you never ever meet something called sadness. It makes everything ok.

Itu lah kekuatan gue saat ini. Gue nggak habis-habisnya bersyukur kepada Allah SWT karna sudah menciptakan suasana mendung. Walau kadang-kadang ngebuat gue galau, tapi gue lebih banyak dapat hal positifnya.

I ADORE CLOUDY SO FUCKING MUCH

Sunday, September 30, 2012

Cycle of Life


Gue sendiri nggak ngerti kenapa gue kebelet pengen buat postingan ini. Gue cuma merasa ada sesuatu yang mendesak keluar. Gue udah nggak bisa ngelimpahin semuanya ke aplikasi social network yang lain. Blog dirasa paling aman karna jarang orang yang melihatnya. Just they are who really do want to know something about me. Jadi postingan2 blog yang berisi curhatan atau petuah nggak akan gue share di twitter lagi. Tapi, ngapain juga ya gue ngasih petuah tapi nggak disebarin? -_- Ya menghindari dari hal yang buruk saja.

Back to the topic, gue selalu salut dengan bagaimana siklus hidup berlangsung. Selalu memberikan hal mengejutkan ke kita. Bahkan siklus hidup dapat memberikan hal yang sama berulang kali tapi dengan jalan yang berbeda. Bagaiamana seseorang bisa jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Pernah ngerasain?

Gue pernah ngerasain "sudah jatuh tertimpa tangga". Rasanya sakit sebagaimana luka yang belum sembuh diberi tetesan jeruk nipis. Gue adalah orang yang butuh waktu lama buat nyembuhin luka. Dan lebih buruknya, gue orang yang gampang terluka. Okay, it sounds so "lebay" -_- Tapi beneran deh. Gue orang yang gampang marah tapi cepat buat memaafkan. Walaupun sakit dari lukanya masih ada.

Ada yang bilang kehidupan itu kayak roda. Pasti pernah di atas, pernah di bawah. Lama waktu kau di atas dan di bawa pasti akan sama. Kalau merasa tidak sama, lihat lebih seksama. Hidup tuh adil. Karna Allah SWT yang membuatnya adalah Maha Adil. Gue nggak tahu bagaimana dan kapan Allah akan membalas pengorbanan dan keegoisan gue selama gue hidup. Tapi gue percaya pasti adil.  Dia-lah yang sangat aku percayai.

Hal yang buruk di dunia ini gue anggap adalah pelengkap untuk menyeimbangkan hidup. Kau tak tahu bagaimana indahnya senyuman sebelum kau merasakan pahitnya tangisan. Kau tak tahu bagaimana berharganya sebuah pertemuan sebelum kau merasakan sakitnya perpisahan.

Pertemuan-perpisahan. Ada yang lama, ada yang singkat. Menurut gue pertemuan yang paling lama adalah pertemuan dengan keluarga inti. Dan pertemuan yang paling singkat menurut gue adalah pertemuan di dunia maya. Gue nggak usah kasih komen dengan argumen gue yang pertama, kan? Kalau yang kedua, err, gue udah ngerasain. Buktinya macam Norman, Jojo-Shinta, dan si Udin itu. Mereka memang sangat terkenal pada masanya. Tapi sekarang? Gue udah nggak denger kabar mereka lagi tuh -_-

Begitulah siklus hidup. Saling bertolak belakang. Saling melengkapi. You don't know how it's going to work. You just can prepare for the best and the worst. But, keep my words:

You are not the highest nor the lowest. So don't be selfish and always be grateful.