Friday, September 7, 2012

Dari NOL jadi DODOL


Gue selalu penasaran darimana asal ketertarikkan gue akan menulis. Yang gue maksud dengan menulis bukannya benar-benar menulis dengan tangan. Maksud gue membuat sebuah cerita. 3 sahabat gue ahli dalam bidang ini. 

Raden (Rizka/Risut), karya tulis yang ia hebati adalah puisi. Baca aja di blog dia di sini. Dia bilang, sih, itu bukan puisi. Bodo weh lah mau nyebut itu puisi atau bukan. Tapi keterampilan dia buat puisi yaaaaa bagus deh. Walau dia jarang membuat karya tulis, tapi pengetahuan dan pengamatannya harus diacungin jempol!! (Y)

Tasya, dia suka buat cerpen. Cerpen-cerpen dia bisa lo liat di sini. Cerpennya, sih, bagus-bagus. Cerpen dia yang judulnya "Hilang Dalam Diam" itu ............... *lupakan* Daya imajinasi dia juga hebat. Selain itu, dia juga inofatif~ (nih gue puji-puji lo, sya!)

Devita, jangan ditanyalah dia mah. Dia juara 1 lomba cerpen tupperware. Hadiahnya juga lumayan bangetttttttttt pakai t 100 kali. Dia sumber inspirasi gue. Gue selalu salut bagaimana dia bisa dengan mudah mendapatkan inspirasi menulis. Gue? Butuh semedi di kamar mandi 7 hari 7 malam dulu baru dapat inspirasi. Gue pernah lho tandingin cerpen gue sama dia. Hasilnya pertandingannya, gue harus traktir dia kue cane -_- Nah, makhluk inilah yang memperkenalkan gue dengan kegiatan membuat karangan tulis.

Awalnya adalah saat kelas 1 SMA. Dia lagi buat novel dengan judul "My Eternal Happiness". Gue yang masih bego, terkesima dengan kegiatan dia. Selama ini kerjaan gue adalah membaca novel. Dan sekarang gue berteman dengan penulis novel. *Tolong dipertebal kata "bego" tadi. Karna gue bener-bener kayak orang bego waktu itu.*

Karangan menulis pertama gue adalah fan fiction. Waktu itu gue masih dodol banget merangkai kata (Sekarang juga masih dodol, sih. Hehehehe). Vocab gue juga masih minim. Ahhh, pokoknya masih dodol prododol.

Tapi kian kemari, ada peningkata, sih. Sedikit. Gue nggak akan pernah puas dengan ketertarikkan gue akan membuat cerita. Walau gue sekarang masih mendasar pada FF dan cerpen. Do'akan gue bisa buat novel best seller suatu hari. *aminnnnn*


I ask my regards to my lovely deeply Depitah. For everythings you've shown to me, it change me.

Sunday, September 2, 2012

Hurt

Pernah nggak ngerasain sakit banget? I did.
Pernah nggak ngerasain saat kau nggak bisa apa-apa? I did.
Pernah nggak nangis sampai susah berhenti? I did.
Atau, pernah nggak ngerasain sakit banget, tapi kamu nggak bisa berbuat apa-apa, bahkan nangis pun udah nggak cukup untuk meluapkannya? I do.

Kenangan. Mengapa harus ada kenangan kalau itu cuma bisa buat kita sakit? Mengapa harus ada kenangan buruk? Mengapa kenangan buruk adalah kenangan yang paling  susah dilupakan?

Why?

Saat kamu sudah tahu realitasnya, semua kenangan dan harapan menghantammu bagai hujan di padang pasir. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?

Saat hati menjerit rindu, tapi disaat yang bersamaan dia tertusuk oleh masa lalu dan masa sekarang. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?

Saat kau berusaha mengais-ngais untuk sebuah harapan, tapi kau ragu untuk mencobanya. Karna kau takut dengan sakit yang dulu menyiksamu. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?

Apa yang aku rasakan? Hurt.
Apa yang aku lakukan? Nothing.
 Puas kau sekarang?

Saturday, September 1, 2012

Letters in my tree

*01 September 1971*
Kulihat ia berjalan menuju Hogwarts Express. Langkah pasti, tatapan mengawasi. Pure-blood. Sudah bukan hal asing pada zaman ini bahwa pure-blood lah yang berkuasa. Tapi ada yang berbeda dari orang ini. Dia terlihat sangat berhati-hati. Seakan anak-anak disini adalah bom waktu. Mungkin aku harus berhati-hati dengan dia.

*25 Desember 1974*
“Tambah lagi, Anggun?”
Aku tersenyum mengiyakan. Aku merayakan natalku di rumahnya. Kami melakukan giliran. Tahun kemarin dia merayakan natal ke rumahku. Keluarganya cukup ramah padaku. Aku senang-senang saja. Tapi kulihat dia tampak murung di seberang meja. Dia hanya memainkan makanannya. Aku tahu kenapa. Dan aku yakin kalian juga tahu kenapa.
“Kau kok bisa sih tahan sama mereka?” Semburnya saat masuk ke kamarku.
Aku hanya mengangkat bahu. Tak tahu harus menjawab apa. Kami cukup dekat dalam waktu 3 tahun ini. Awal kami berkenalan adalah saat ia bersalaman denganku karna kami berdua adalah siswa/siswi pertama yang memasuki Gryffindor. Sejak saat itu kami berdua sangat dekat. Aku juga cukup dekat dengan ketiga temannya yang lain. Cukup menyenangkan menjadi sahabatnya. Yeah, sahabatnya.

*31 Agustus 1976*
“Kau, apa?”
Kuhembuskan napas. Ada semacam luka dalam hatiku. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa rasa sakit ini. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa perasaan ini. Tapi aku belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang harus aku lakukan terhadap rasa sakit di perasaan ini.
“Ayahku dialih tugas kan ke Yunani. Aku harus pindah sekolah.” Ucapku padanya.
“Kau bercanda bukan?” Tanyanya.
Aku tak berani memandang matanya. Rasanya sakit harus meninggalkan orang yang sangat ku cintai. Rasanya sakit karna hanya aku yang merasakannya. Rasanya sakit karna aku tak bisa meluapkan semuanya.
“Tak masalah bukan? Kita masih bisa berkirim surat dengan burung hantu. Walaupun....” itu tak pernah cukup. “Walaupun itu sangat menyusahkan.“ Ucapku sembari tersenyum menyeringai.
Hening.
Kuangkat kepalaku. Kulihat ia memandangku dengan tatapan marah. “Itu berbeda.”
“Apa yang beda? Apakah itu berarti? Tidak untukmu, kan?” Tantangku.
“Kau tak pernah tahu apa-apa, Anggun.”
“Karna kau tak pernah memberi tahuku apa-apa, Sirius.”
Aku pergi dari rumahnya. Itulah percakapan terakhir kami. Selamanya.

*01 Sepetmber 2000*
Aku berada di King’s Cross mengantar anakku yang ke-2 berangkat ke Hogwarts. Bersama, kami melewati peron 9 ¾. Kulihat si ular merah besar. Hogwarts Express. Teringat bagaimana kali pertama aku menaikinya. Kali pertama aku melihatnya.
Selama aku di Yunani, aku masih tetap berlangganan Daily Prophet. Aku selalu mengikuti perkembangannya. Saat ia dipenjara di Azkaban. Saat ia berhasil lolos dari Azkaban. Saat namanya dibersihkan atas segala tuduhan. Aku percaya padanya. Selalu.
Setelah mengatar anakku, aku akan mampir ke rumah lamaku. Mengenang hal-hal yang baik. Jika aku masih ingat hal-hal baik itu.
Rumahku dekat dengan pemukiman Godric’s Hollow. Rumah sederhana tapi nyaman. Aku berkeliling di sekitar pekarangan. Teringat saat dia mengajarkanku teknik-teknik quidditch disini. Kuhampiri pohon lebat disamping rumahku. Tempatku dan dia bersantai setelah bermain quidditch.
Kulihat sesuatu menyembul dari lubang di bawah pohon itu. Saat kuambil, ternyata itu adalah beberapa surat yang sudah mengkuning. Surat itu dilindungi mantra impervius. Dapat kukenali tulisan tangan itu. Sirius.

------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1977
Hai! Kau dimana sekarang? Terakhir kali kita berbicara kau tidak memberitahuku alamatmu di Yunani. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Aku bertanya-tanya pada tetanggamu. Tak ada yang tahu. Kau seperti menghilang begitu saja. Apa kau tak memikirkan perasaanku?
Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.

------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1978
Akhirnya aku lulus dari Hogwarts. Aku memutuskan untuk bergabung dengan Order Phoenix. Aku kabur dari rumah. James memberiku tempat di rumahnya. Dia memang sahabat terbaikku. Aku dengar wajahku dihanguskan oleh ibuku sendiri di pohon keluarga Black. Aku tidak peduli.
Aku masih mengkhawatirkanmu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.

------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1979
James dan Lily akan menikah. Aku terpilih sebagai pendamping laki-laki. Ah sahabatku. Aku sungguh bahagia atas dia. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan menikah?
Keadaan disini sungguh kacau. Bagaimana keadaanmu? Dimana kau?
Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1980
Anak dari Lily akan segera lahir. Laki-laki. James berkata aku akan jadi bapak baptisnya. Aku tak bisa menggambarkan seberapa besar kebahagiaanku. Andai aku bisa membalas semua kebaikkannya.
Apa kau tak pernah kembali? Aku sungguh menantimu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1981
Semua berjalan dengan sempurna. Rumah Lily diberi mantra fidelius. Awalnya akulah sang pemegang kunci. Tapi beralih ke si kecil Peter. Aku khawatir padanya. Ada sesuatu yang berbeda. Tapi aku tak akan mencurigai sahabatku sendiri. Aku percaya pada mereka.
Apakah semuanya baik-baik saja? Aku selalu mengkhawatirkanmu. Dimana kau?

Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun


------------------------------------------------------------------------------------------------


21 Juli 1993
Aku dijebak oleh si busuk Peter. 12 tahun terpenjara karna bukan kesalahanku. Mengalami kondisi terburuk yang pernah aku alami. Aku akan balas dendam. Aku tahu dimana dia. Aku akan mengejarnya. Walaupun aku harus mati.
Apa kabarmu? Aku percaya kau akan membaca surat ini suatu hari. Entah kapan.

Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1994
Aku baik-baik saja sekarang. Aku masih dalam pelarian dengan buckbeak (seekor hippogriff). Aku sudah bertemu dengan Harry. Dia mirip sekali dengan James. Aku juga bertemu dengan Remus. Kau ingat dia, kan? Peter kabur. Tapi aku akan berusaha mengejarnya.
Aku selalu berharap kau membalas suratku. Selalu.
Dari sahabatmu,

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.

------------------------------------------------------------------------------------------------

21 Juli 1995
Aku kembali ke rumahku. Tempat terburuk dan teraman. Harry mendapat masalah. Aku tak heran mengingat bagaimana Ayahnya. Tapi kali ini ia dijebak. Aku yakin itu.
Ini mungkin kali terakhir aku mengirimu surat. Entahlah. Aku hanya merasa seperti orang bodoh. Mengirimi seseorang surat setiap ulang tahunnya ke rumah lamanya dan tak pernah mendapat balasan selama 18 tahun. Jangankan balasan, kabar tentangmu pun aku belum dengar sama sekali. Pernahkah aku bilang padamu bahwa aku mencintaimu? Tentu saja tidak. Egoku terlalu besar. Tapi aku masih menunggumu. Aku akan selalu menunggumu.
Aku mencintaimu. Selalu.

Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun. Selamat tinggal.

Friday, August 10, 2012

Fanfict 2 part 7


Tanpa aku sadari aku sudah dikelilingi oleh beberapa murid Slytherin. Dan di hadapanku, menatap dengan curiga, sosok yang membuat hari-hariku bahagia, Draco. Pansy yang sejak tadi tersenyum licik, membuka suara lebih dahulu.

“Upss. Sepertinya ada yang terjebak dalam masalah.”

Kulihat alis Draco mengkerut. Wajahnya tidak memancarkan keakraban lagi. Dia menatapku seolah aku orang asing yang memasuki wilayahnya. Sepercik amarah tersulut di dalam diriku. Rasa ingin melawan.

“Jadi, apa maksud dari semua ini, Draco?” Tantangku.

Alis Draco terangkat, sementara aku memincingkan mataku. Genggaman tanganku menguat. Kuambil langkah pendek ke depan. Gigiku gemetaran. Api kecil itu sudah berkobar-kobar dalam diriku. Tapi Draco tidak memberikan ekspresi takut, khawatir, ataupun gelisah. Dengan muka datarnya, ia membalas semua gerakanku dengan menyilakan tangannya dan menyeringai.

“Baru sadarkah kau? How pitty you are!”

Api dalam diriku semakin membesar. Kuarahkan kepalan tanganku ke arah mukanya. Terdengar bunyi hantaman. Draco terjatuh ke lantai perpustakaan. Semua orang tercekat. Tubuhku masih bergetar hebat akibat dari tindakakanku tadi. Kutarik napas panjang. Berharap tubuhku tenang kembali.

“You’re right.” Balasku. 

Aku berjalan melewati tubuh Draco yang masih terkulai di lantai. Terdengar pekikkan Pansy, menanyakan keadaan Draco. Setelah berada di luar perpustakaan, aku sedikit limbung. Kutarik napas panjang lagi sembari menutup mata. Terasa mataku sedikit panas. Kurasakan basahnya air mata. Tidak. Aku tak boleh menangis untuk lelaki tidak berguna itu. Aku harus secepatnya kembali ke asrama. Aku langkahkan kakiku dengan mantap. Air mataku kembali merebak. Kupercepat jalanku. Mendorong seorang murid Ravenclaw saat ia selesai menjawab teka-teki pintu asrama. Aku berlari saat sudah mencapai tangga asrama. Membuka pintu kamarku lalu membantingnya. Napasku terengah-engah. Kulihat Hest manatapku bingung. Aku berlari ke arahnya, memeluknya, dan menangis dalam dekapannya. Dadaku terasa sakit. Hest hanya diam dan membelas pelukanku. Perlahan ia membelai punggungku. Berusaha menenangkanku. Tapi Aku berteriak dalam sedu tangis.

Ω
Kabar tentang aku meninju Draco tersebar luas dalam sehari. Dengan ditambahi bumbu-bumbu di cerita itu. Aku jamin bahwa itu karangan dari Pansy. Seharian kemarin aku diwawancarai dan diceramahi oleh Lucie. Dilain pihak, Josh malah membuang muka saat bertatapan atau berpapasan denganku. Aku bertanya ke Lucie, tapi ia hanya mengangkat bahu, tidak tahu apapun.

Aku menjadi musuh nomor satu di Slytherin. Mereka berang karna aku telah memberi lebam di muka salah satu murid emas Slytherin. Apakah aku merasa terintimidasi? Tentu tidak. Karna berdasarkan hasil pengamatan Hest, mayoritas dari murid-murid Gryffindor dan Hufflepuff mendukungku. Ravenclaw? Tentu saja mereka berada dipihakku.

Tapi tetap saja ada rasa mengganjal di hati setiap aku berpikir tentang Josh. Apakah dia kecewa padaku karna sempat mempercayai Draco? Atau karna aku telah berperilaku kasar sebagai murid Ravenclaw? Harusnya dia bilang kepadaku jika ada yang salah. Bukannya menjauh seperti ini. Amarah kembali tersulut dalam benakku. Ingin sekali aku mendatangin si bodoh Josh. Apa perlu aku meninjunya juga? Sungguh menyebalkan.

2 minggu kuhabiskan dalam perang bisu dengan Josh. Lucie mencoba mengakrabkan aku dengan Josh kembali. Dari mulai selalu membicarakan aku di depan Josh atau sebaliknya hingga berusaha mempertemukan kami di Hogsmeade. Tapi semuanya gagal total.

“Aku menyerah dengan kalian berdua.” Ucapnya Lucie saat makan malam di Aula Besar.

“It’s okay. Aku juga tidak mau berbaikan dengan si Rubah.” Balasku sinis.

“Are u kidding? Kalian berdua sudah seperti adik-kakak. Tidak seharusnya kalian bertengkar untuk alasan yang tidak jelas.” Sergah Lucie.

Aku mengangkat bahu dan terus memainkan spaghettiku. Di sebrang meja, kulihat Draco sedang menatap tajam ke arahku. Rasa sakitku terhadapnya sudah menghilang. Rasa kagumku pun turut pergi. Tapi aku tidak takut lagi mendapatkan tatapan tajam dari siapapun, termasuk Draco. Jadi, kubalas tatapannya dengan mengangkat gelas jus labuku. Melakukan gerakan bersulang dengan senyum sombong. Kulihat dia mendengus kesal.

Saat aku memalingkan mukaku, tatapanku bertabrakan dengan Josh yang duduk di ujung meja. Menatap dengan muka datar. Rasa kesal dari hatiku membuat aku membuang muka dan kembali menatap spaghettiku.

“Ummm Lucie. Aku ingin memperingatkan kau. Hati-hatilah terhadap Draco.” Ucapku lalu berdiri untuk kembali menuju asrama.

Fanfict 2 (Part 6)


*1 bulan kemudian*

Lucie menatapku seakan aku adalah siswi yang ternyata teroris nomor satu di dunia. Tangannya mencengkram pundakku seakan elang mencengkram ikannya.

“Kau tak pernah bilang padaku bahwa kau dekat dengan Draco sekarang.”

Aku menelan ludah. Bukannya tidak mau menceritakan. Tapi aku yakin kalau aku cerita pada Lucie, Hest, dan Arina mereka pasti menentang hubungan pertemananku dengan Draco.

“O-oh ya?” gagapku. “Aku lupa tuh.”

Lucie memincingkan matanya. Melepas cengkraman pada pundakku lalu menyilakan kedua tangannya. Pertanda ia akan ceramah panjang.

“Lebih baik kau menjauh deh. Kau tahu kan kalau dia itu jahat. Aku takutnya kau dimanfaatkan. Oke kita berpikir positif. Dia merasa bersalah padamu, lalu meminta maaf. Tapi akan aneh bukan kalau dia lalu mendekatimu? Aku tahu..” Ucapnya saat aku mau menyela ceramahnya. “Aku tahu kalau tak bagus berpikiran negatif. Tapi aku tak melihat hal postif yang sedang dilakukan Draco.”

Aku menundukkan wajah. Entah harus membalas apa. Lucie benar. Harusnya aku curiga dengan tingkah Draco kepadaku 1 bulan terakhir ini. Selalu berjalan bersamaku jika bertemu di lorong, duduk di sampingku jika kita bertemu di taman, dan semua surat-surat itu. Aku sempat risih dengan semua itu, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku bahagia. Rasanya seperti mimpimu tinggal sejengkal dari uluran tanganmu.

Aku menghela napas dan mengangkat wajahku. “Aku akan mencoba lebih membuka mataku dan berhati-hati.”

Lucie ingin memprotes, tapi terdiam kembali. “Oke. Aku tahu kau pasti senang dengan semuanya.”

Kuangkat bahuku. Entah artinya setuju atau tidak tahu. Aku tidak peduli. Tiba-tiba tatapan Lucie menjadi sedikit ‘layu’.
 
“Ada apa?”

Lucie menundukkan kepalanya. “Aku capek.”

Hening. Aku tak tahu apa aku harus komentar atau bertanya. Aku hanya diam. Kode bahwa aku ingin dia meneruskan ceritanya.

“Kau tahu kan bagaimana kedekatanku dengan Josh sekarang?” Tanyanya. Aku menggangguk tipis. “Aku sudah memberikan ‘sinyal-sinyal’ kepada Josh tentang perasaanku, tapi dia tidak menyadarinya. Aku bingung harus bagaimana. Atau aku menyatakan perasaannya lebih dulu?”

Sesuatu menghantam perutku. Rasa mual menjalari setiap sisi lambungku. Apa yang terjadi padaku? Aku bisa merasakan keringat dingin keluar dari setiap pori-pori punggungku. Aku berusaha berpikir positif. Mungkin aku sedang sakit sesuatu.

“ALVVV!!!!”

Aku tersentak dari pikiranku dan memandang bingung ke arah Lucie. “I’m talking with you.”

Aku nyengir kuda. “Maaf. Well, kalau menurutmu memang itu yang terbaik, coba saja. I just can hope the best for you Lucie. Semoga Josh merasakan hal yang sama.”

Lucie tersenyum masam. “I hope so.”

Ω
Perpustakaan sepi melompong. Tak ada satu murid pun. Hanya Madam Pince yang terlihat merapihkan buku. Aku menaruh tasku dan mengambil sembarang buku. Biasanya aku ditemani Draco disini. Tapi anehnya hari ini aku belum bertemu dengannya. Rindu memang. Tapi apa hakku untuk rindu padanya?

“Kau tidak bersama dengannya lagi?”

Suara asing datang dari koridor rak buku di depanku. Suara yang tak asing. Tapi aku memang tak pernah menghafal suara orang lain.

“Yeah. Sepertinya kau sudah bosan dengannya.”

Aku mulai risih. Apa mereka tak tahu apa yang orang lakukan di perpustakaan? Aku bangkit dari dudukku dan berjalan ke rak sebelah.

“Iya. Dia sangat-sangat membosankan.”

Kakiku membeku dalam sekejap. Tanganku bergetar hebat. Jantungku berdegup tidak karuan. Napasku menjadi lebih sesak. Suara itu. Suara yang menemaniku satu bulan kebelakang. Suara lembut itu. Tidak. Suara yang tadi kudengar ini tidak bernada lembut dan penuh kasih sayang. Tapi angkuh dan cuek.

“Jadi, kau menyerah, Draco?”

“Ck. Sepertinya aku harus pergi meninggalkan Alvyna. Josh sudah punya yang baru. Si Luciana dari Ravenclaw. Mungkin aku akan merebutnya.”

“Hey!”

Aku tersentak dari kebekuanku. Sebuah tangan menepuk pundakku. Aku membalikkan badan dan menemukan Pansy sedang di depanku dengan senyum licik.

“Menguping itu tidak bagus, Nona.”

Habis sudah aku.

Saturday, July 21, 2012

17th

Happy 21st ^^
Happy 17th Birthdays ^^

Akhirnya gue 17 juga :') KTP :')
Do'a buat diri sendiri supaya gue bisa masuk unpad-psikologi :') selalu sehat :') dikasih waktu untuk membahagiakan orang tua :') DLL

Thanks bagi kalian yang sudah ngucapin. It means so much :*





Sunday, July 8, 2012

Mature?!!

Hell-o (^^)

Udah lama gue nggak buat postingan. Ck. Mohon maklumi. Gue nggak tahu mau posting apa (-_-) TAPI~~~~~~~~ Kemarin lusa gue dapet ide untuk buat postingan :)) Sebelumnya sih gue sibuk cari imajinasi gue. Imajinasi buat lanjutin cerita si Alvyna (-_-) Nggak tahu? Baca dong disini! Tapi imajinasi gue ilang. Jadinya fanfict itu masih di tengah jalan (._.) hehehehehe.

Karena berhubung gue bakal tambah umur, gue mulai sensitif dengan hal berbau 'kedewasaan'. OMG!! (-_-) Umur gue nanti 17!!! SEVETEEN!!! Dimana-mana orang yang udah 17, harusnya udah dewasa kan?? Lah gue? Jangan ditanya!

Jadi sebenarnya apa sih kedewasaan? Saat orang sudah bisa membedakan mana yang salah dan benar? Saat hak memilih orang sudah FULL-SERVICE? Saat orang tua sudah memberikan kepercayaan 100% kepada anaknya? Pendapat orang tentang kedewasaan tentunya beda-beda. Nah terus, apa sih yang jadi patokan kita untuk mengukur kedewasaan seseorang? Umur? Aduhhh, banyak kali acc quotes di twitter yang bilang "Tak bisa ditentukan dengan umur". Gue setuju quote itu. Emang bener banget. Soalnya belakangan gue udah nemuin orang-orang yang sudah 'berumur' tapi masih berkepribadian kayak anak-anak SMA :))

Gue? No. Gue belum dewasa. Gue masih sering labil kok. Jadi gue buat postingan ini juga ngaca kok. Gue bukan tipikal orang yang buat postingan sok bijak. Gue memberikan pendapat.

Back to mature. Jadi apa dong patokan kedewasaan orang itu? Menurut gue ya sifat. Tapi kedewasaan nggak bisa dipatok dari sikap. Bisa bedain dong sikap dan sifat? Hmmmm.  Nah artian sikap dan sifat sama kok. Sama-sama dasar dari tindakan yang diambil seseorang. Bedanya sifat itu lebih alami, tapi kalau sikap nggak semuanya alami. Contoh: Ada orang yang BERSIKAP dewasa, tapi belum tentu mereka BERSIFAT dewasa. Get it? :))

Hell, gue buat postingan ini niatnya bukan nyindir sih XD. Tapi emang udah SIFAT gue buat suka nyindir orang XD

Next. Gimana sih kalau ada orang yang bilang 'aku kan udah berumur blablabla jadi harus dewasa'. Oke :)) agak lucu sih gue bacanya. Kenapa? Kalau elu udah dewasa, ngapain elu ngasih tahu ke orang-orang kalau elu akan berSIKAP dewasa? Bukan kah itu sifat anak kecil? :))  

terus siapa sih yang buat patokan kedewasaan? Kita sendiri? Nggak mungkin. PD amat lo bilang 'gue udah dewasa kali'. Yang ngukur elu udah dewasa atau nggak ya orang lain. Jadi jangan pernah anggap diri lo udah dewasa. Sumpah jangan! Soalnya itu malah menunjukkan diri lo anak kecil hahahahahaha :))

Well, ini sih pendapat gue aja. Terserah mau terima atau nggak. I dont life to please you honey :))