Kuingin hembuskan gelisah di dada dengan nafasku
Balon yang bulat kulepaskan dari tanganku
Semakin tinggi rahasia Terbang di langit biru
Ditiup angin entah kemana?
Cinta
Bagaikan ekor malaikat yang nakal
Kabur dengan lembut tak tahu ke mana matahari yang kudambakan terlalu silau
Kar'nanya
Aku berpura-pura tidak suka dan aku pun menjadi bersikap dingin
Aku memandang dari kejauhan Cinta tak berbalas hanya milikku
Jika kau sadar akan pandanganku pada dirimu
Jantungku pun berdegup kencang dan akan meledak
Mengapa perasaanku Jadi berat begini?
Ku ingin bertanya pada awan putih
Cinta
Bagaikan ekor malaikat yang plin-plan Gerak kesana sini susah kutangkap
Tak akan bisa atasi pada pengalaman pertama
Suatu hari
Arah angin akan berubah Hingga kebetulan kau lihat ke sini
Ku 'kan menunggu di tempat ini Hingga keajaiban munculnya pelangi
Cinta
Bagaikan ekor malaikat yang nakal Kabur dengan lembut tak tahu ke mana
Matahari yang kudambakan terlalu silau
Kar'nanya
Aku berpura-pura tidak suka dan aku pun menjadi bersikap dingin
Aku memandang dari kejauhan Cinta tak berbalas hanya milikku
ENGLISH TRANSLATION
This chest aches with a breath,
And I let go of the swelling balloon in my hand
Bit by bit it rises
A secret flying through the blue sky
Where will it go as it's blown by the wind?
Love
Is a mischievous angel's tail
Lightly it dashes away somewhere
The sought-after sun is too brilliant
Therefore,
I won't play around with that
And go about with a blunt manner
From far away I'm gazing
A one-sided love where only I have the feelings
If I could look at you with this gaze
And you notice me,
With a pang in the chest, my heart will just explode
Why does this feeling
Have to hurt so much?
I try to ask the white clouds for advice
Love
Is a fickle angel's tail
It can't be caught as it sways from side to side
As my first time, I can't manage it
One day,
The winds of fortune will change,
And until by chance you see this place,
I'll be waiting here
For the miracle that hangs a rainbow
Love
Is a mischievous angel's tail
Lightly it dashes away somewhere
The sought-after sun is too brilliant
Therefore,
I won't play around with that
And go about with a blunt manner
From far away I'm gazing
A one-sided love where only I have the feelings
source: akb48-corner
Thursday, August 8, 2013
Monday, May 27, 2013
*Kira-kira apa ya judulnya? -_-*
Tahu kah engkau rasanya?
Bercanda senang saat tahu tawa itu mungkin berubah
Bernyanyi merdu saat tahu suara itu mungkin berubah
Bercakap-cakap saat tahu nada itu mungkin berubah
Tahu kah engkau rasanya?
Bertemu riang saat tahu wajah itu mungkin berubah
Bertatap muka saat tahu tatapan itu mungkin berubah
Berfoto ria saat tahu senyum itu akan berubah
Katakan aku egois
Aku menutup telinga dari detak waktu
Katakan aku bodoh
Aku menutup mata untuk melihat
Maafkan aku, teman
Tapi itu menyakitkan
Aku mengerti, kawan
Tapi tetap itu menyakitkan
I just realize. I'm not good at poem ( -____-)/|Chairil Anwar|
Bercanda senang saat tahu tawa itu mungkin berubah
Bernyanyi merdu saat tahu suara itu mungkin berubah
Bercakap-cakap saat tahu nada itu mungkin berubah
Tahu kah engkau rasanya?
Bertemu riang saat tahu wajah itu mungkin berubah
Bertatap muka saat tahu tatapan itu mungkin berubah
Berfoto ria saat tahu senyum itu akan berubah
Katakan aku egois
Aku menutup telinga dari detak waktu
Katakan aku bodoh
Aku menutup mata untuk melihat
Maafkan aku, teman
Tapi itu menyakitkan
Aku mengerti, kawan
Tapi tetap itu menyakitkan
I just realize. I'm not good at poem ( -____-)/|Chairil Anwar|
Monday, May 6, 2013
Mainstream
Sejak gue SMP sampai SMA (ingatan gue saat masa SD sudah memudar), gue ga pernah sekalipun datang terlambat kecuali ada keterangan khusus. Pernah sekali-kalinya datang ke sekolah tipis sekali dengan waktu masuk sekolah. Kenapa? Karna jujur aja gue orang yang ga berani ambil resiko(Tapi gue ga ngomong kalau gue orang yang taat peraturan ya). Mungkin karna lingkungan gue yang memberi masukkan pemikiran untuk 'selalu pada jalurnya'. Itu menjadikan gue orang yang sangat normal. Andai kata gue spongebob, gue mungkin spongebob episode saat lubang-lubangnya hilang. Alias totally normal.
Tapi itu semua berubah. Bukan karna negara api menyerang. Tapi karna hadirnya seseorang. Mungkin saat kalian membaca seseorang, kalian akan berpikir tentang orang yang gue suka alias gebetan gue. Tapi bukan, bro. Gue bukan raditya dika yang serba galau soal gebetan. Bukan. Bukan salah lagi. Oke. Jadi seseorang itu adalah guru gue. Dia memaksa gue untuk menjadi berbeda. Sebelumnya gue ga merasa gue adalah orang yang sangat normal. Gue merasa itu gue. Tapi guru itu seperti ngebuat jurang yang luas. Membuat gue sadar betapa normalnya gue. Betapa berbedanya dia. Temen-temen gue rata-rata ga suka sama dia. Karna bedanya dia. Awalnya gue begitu. Tapi semua berubah lagi. Karna gue mencoba untuk berpikiran seperti dia.
Call me evil or something like that. Karna gue sangat suka menertawakan orang. Saat gue mencoba melihat seperti yang guru gue lihat, apa yang gue lihat sangat sangat menghibur. Betapa mereka mudah tertebak. Mereka terlihat seperti bentuk kardus yang berbeda tetapi berjalan bersama-sama. Mereka menertawakan orang yang mengambil jalan yang berbeda dengan mereka tanpa mereka sadari bahwa mereka berdesak-desakkan di jalan yang sama. Setelah melihat ini gue mencoba untuk setidaknya mengambil resiko. Jujur aja sampai saat ini gue belum mampu. Ironis bukan saat gue menertawakan orang-orang yang berjalan dengan gue karna mereka menertawakan orang yang tidak berjalan dengan gue.
Friday, February 8, 2013
Grenade - Bruno Mars
Easy come, easy go
That's just how you live, oh
Take, take, take it all
But you never give
Should've known you was trouble
From the first kiss
Had your eyes wide open
Why were they open?
Gave you all I had
And you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, you did
To give me all your love is all I ever asked
'Cause what you don't understand is...
I'd catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on a blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
No, no, no, no
Black, black, black and blue
Beat me 'til I'm numb
Tell the devil I said "Hey" when you get back to where you're from
Mad woman, bad woman
That's just what you are
Yeah, you smile in my face then rip the brakes out my car
Gave you all I had
And you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, yes you did
To give me all your love is all I ever asked
'Cause what you don't understand is...
I'd catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on the blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
If my body was on fire
Oh, you would watch me burn down in flames
You said you loved me, you're a liar
'Cause you never ever ever did, baby
But, darling, I'd still catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on the blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
No, you won't do the same
You wouldn't do the same
Oh, you'd never do the same
Oh, no no no
That's just how you live, oh
Take, take, take it all
But you never give
Should've known you was trouble
From the first kiss
Had your eyes wide open
Why were they open?
Gave you all I had
And you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, you did
To give me all your love is all I ever asked
'Cause what you don't understand is...
I'd catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on a blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
No, no, no, no
Black, black, black and blue
Beat me 'til I'm numb
Tell the devil I said "Hey" when you get back to where you're from
Mad woman, bad woman
That's just what you are
Yeah, you smile in my face then rip the brakes out my car
Gave you all I had
And you tossed it in the trash
You tossed it in the trash, yes you did
To give me all your love is all I ever asked
'Cause what you don't understand is...
I'd catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on the blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
If my body was on fire
Oh, you would watch me burn down in flames
You said you loved me, you're a liar
'Cause you never ever ever did, baby
But, darling, I'd still catch a grenade for you (yeah, yeah, yeah)
Throw my hand on the blade for you (yeah, yeah, yeah)
I'd jump in front of a train for you (yeah, yeah, yeah)
You know I'd do anything for you (yeah, yeah, yeah)
Oh, I would go through all this pain
Take a bullet straight through my brain
Yes, I would die for you, baby
But you won't do the same
No, you won't do the same
You wouldn't do the same
Oh, you'd never do the same
Oh, no no no
Saturday, December 15, 2012
Misery Business - Paramore
I'm in the business of misery, let's take it from the top
She's got a body like an hourglass that's ticking like a clock
It's a matter of time before we all run out
But when I thought he was mine she caught him by the mouth
I waited eight long months, she finally set him free
I told him I couldn't lie, he was the only one for me
Two weeks and we caught on fire
She's got it out for me but I wear the biggest smile
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
Second chances they don't ever matter, people never change
Once a whore, you're nothing more, I'm sorry, that'll never change
And about forgiveness we're both supposed to have exchanged
I'm sorry honey but I passed it up, now look this way
Well there's a million other girls who do it just like you
Looking as innocent as possible to get to who,
They want and what they like, it's easy if you do it right
Well I refuse, I refuse, I refuse!
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him right now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
I watched his wildest dreams come true
And not one of them involving you
Just watch my wildest dreams come true
Not one of them involving
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
She's got a body like an hourglass that's ticking like a clock
It's a matter of time before we all run out
But when I thought he was mine she caught him by the mouth
I waited eight long months, she finally set him free
I told him I couldn't lie, he was the only one for me
Two weeks and we caught on fire
She's got it out for me but I wear the biggest smile
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
Second chances they don't ever matter, people never change
Once a whore, you're nothing more, I'm sorry, that'll never change
And about forgiveness we're both supposed to have exchanged
I'm sorry honey but I passed it up, now look this way
Well there's a million other girls who do it just like you
Looking as innocent as possible to get to who,
They want and what they like, it's easy if you do it right
Well I refuse, I refuse, I refuse!
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him right now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
I watched his wildest dreams come true
And not one of them involving you
Just watch my wildest dreams come true
Not one of them involving
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, I never meant to brag
But I got him where I want him now
Whoa, it was never my intention to brag
To steal it all away from you now
But God, does it feel so good
'Cause I got him where I want him now
And if you could then you know you would
'Cause God, it just feels so
It just feels so good
Friday, November 9, 2012
Teman Pertama
“Hello, My name is Anandia Martha Yuniati,”
Seseorang
mengacungkan tangannya. Seorang laki-laki dengan penampilan paling berantakkan
yang pernah aku temui.
“Lo bisa bahasa
Indonesia nggak, sih? Nggak usah sok formal pakai bahasa Inggris hanya karna lo
sekolah di Sekolah Internasional deh,”
Semua murid di
kelas itu sontak tersenyum-seyum menahan tawa. Bagian mana yang lucunya?
“Jaga sikapmu,
Keyfa!” Tegur Bu Guru.
“Little bit,” Balasku datar. “Boleh saya
duduk sekarang, Ma’am?”
“Tentu
tentu.......” Bu Guru itu mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kelas. “Kamu
duduk dengan Keyfa saja. Kebetulan teman duduknya sedang absen.”
Aku mengangkat
alisku. Dengan orang itu? Tidak salah? Aku akan membantah ketika kuamati
lekat-lekat wajah guruku. Wajah yang sangat ramah. Kata-kata yang sudah diujung
lidahku harus ku telan kembali. Aku mengangguk hormat lalu berjalan ke tempat
aku harus duduk.
“Jadi,
Anan....”
Aku banting
pelan tasku lalu duduk. Aku tidak ingin membuat kekacauan di hari pertamaku. “Panggil
saya Artha,”
Orang itu
tersenyum mengenjek. Betul-betul tampang yang sangat menyebalkan.
“Terserah deh.
Jadi, lo itu bule, hah?”
Aku pandang
laki-laki itu. “Apa maksud anda dengan kata ‘bule’ tadi?”
Laki-laki
bernama Keyfa itu melongo. Aku mendengus melihat ekspresinya itu. “Jujur, saya
kagum dengan namamu. It’s a good name.
But it’s not suit with your attitude,” Komentarku.
Wajah laki-laki
itu semakin tak terkontrol. Sungguh pemandangan yang lucu.
***
“You came from France? Really?”
“Why do you come back to Indonesia? France
is better than Indonesia, isn’t it?”
“How the guy in there? Omg!! I want to go to
France someday,”
“Kalian
apa-apaan, sih?! Norak tahu nggak. Dia tuh orang Indonesia. Nggak usah sok
ngomong pakai Bahasa Inggris. Bahasa nasional kita kan Bahasa Indonesia. Urusan
dia kalau dia nggak ngerti apa yang kita omongin!”
Aku terperanjat
mendengar suara keras Keyfa. Untung saja Bu Guru tadi sudah keluar. Aku
tak
ingin melihat wanita seperti dia marah-marah. Aku memang berasal dari
Perancis.
Mamaku adalah orang Perancis dan ayahku orang Indonesia. Akibatnya aku
mempunyai rambut hitam legam, badan proporsional, kulit yang lebih putih
dari orang asia
umumnya, dan mata berwarna abu-abu. Aku tinggal di Indonesia dari lahir
hingga
umur 7 tahun. Lalu ayahku ditugaskan ke Perancis, hingga aku kembali ke
Indonesia lagi.
“Ih, Keyfa!
Biasa aja kali. Reaksi lo lebay tahu,” Ujar perempuan yang memperkenalkan
dirinya dengan nama Ratih.
Aku mengerutkan
alis. “Apa itu ‘lebay’?”
“It means... Umm.. Acting more than it should
be,” Balas Ratih dengan senyum yang super ramah. Tapi ramah yang terlalu
dibuat-buat.
Aku lihat Keyfa
menggedikkan bahu seperti merinding kedinginan. “Norak banget sih lo, Ratih!
Dia aja nanyanya pakai Bahasa Indonesia, lo jawabnya sok pakai Bahasa Inggris.
Reva! Tuker bangku, yuk! Bisa mendadak gila gue disini,” Teriak Keyfa ke salah
satu laki-laki di sudut kelas.
“Nggak, deh. Lo
sih duduk di depan. Hari ini ulangan Bahasa Jepang. Kan gue ogah ulangan
berhadapan langsung dengan Sensei.”
Teriak laki-laki yang dipanggil Reva tadi. Keyfa mendengus karna harus menerima
nasibnya terperangkap denganku.
“Yaudeh. Lo
tuker sama gue aja, Fa! Noh, lo duduk sama Megan. Biar gue duduk sama Artha...”
Ratih menengok ke arahku dengan wajah yang berseri-seri. “Is it okay if i’m being your chairmate?”
Belum sempat
aku membalas ucapannya, dia sudah melenggang pergi dan kembali membawa tas.
Lalu dia melakukan gerakkan seperti mengusir Keyfa. Bagian kecil dariku tak
ingin Keyfa pergi. Lebih baik aku terperangkap dengannya daripada dengan Ratih.
“If you need something, you can ask me. This
is my job as your friend.” Ujar Ratih yang sudah duduk di sampingku.
Friend, huh?
***
“So, your mother is a Gaul?”
Aku mengangguk
sekenanya. Ingin sekali aku pergi dari sini secepatnya. Suasana seketika
menghening saat dari pintu muncul seorang guru dengan wajah yang ‘killer’.
“Keluarkan
kertas selembar. Kita langsung ulangan. Dan untuk Anandia, kamu duduk saja.
Tidak perlu mengikuti ulangan hari ini,” Ucap Guru tersebut.
“She said that you...”
“Saya mengerti maksud Guru itu. Terima
kasih.” Ujarku dengan nada sinis. Ratih diam membisu dan lalu menulis di
kertas kosong yang sudah ia siapkan sedari tadi.
Suasana kelas
yang hening sungguh mendamaikanku hari ini. Dari tadi yang kulakukan hanya
menahan senyum melihat ekspresi muka setiap anak-anak di kelas itu. Tatapan ku
beralih ke sosok yang tiba-tiba berdiri dan melangkah ke arah meja guru. Keyfa.
“Kamu yakin
dengan jawabanmu, Keyfa?” Tanya Guru itu dengan nada yang curiga.
“Yakin 100
persen, Sensei! Bahasa Jepang kan
Bahasa Ibu saya,” Jawab Keyfa dengan humor.
Tatapanku terus
menancap ke arah Keyfa sampai dia meninggalkan kelas. Dari sudut mataku, aku
menangkap suatu gerakkan aneh di sampingku. Saat aku menengok, aku melihat
Ratih mengeluarkan sebuah buku dari laci meja.
“What are you doing?” Tanpa sadar aku
berteriak terlalu keras hingga perhatian seisi kelas terpusat padaku dan Ratih.
Cepat-cepat Ratih memasukkan kembali buku tadi.
“Ada apa,
Anandia? Tanya Pak Guru yang sudah berdiri di sampingku.
“Ratih
mengeluarkan sebuah buku dari laci, Sir!”
Jawabku sejujurnya.
Pak Guru itu
menangkat alis. “Benar begitu, Ratih?”
Ratih
menggeleng cepat. Lalu Guru itu memasukkan tangannya dan menarik sebuah buku.
Dibukanya buku itu. Kembali kulihat alis Guru itu menaik.
“Kamu boleh
menyusul Keyfa keluar kelas, Ratih.” Perintah Pak Guru.
“Ta—tapi,
sa-saya belum selesai, Sensei.” Ujar
Ratih dengan gagap.
“Tidak apa-apa.
Lagipula kertas ujianmu tak akan diperiksa oleh Bapak. Silahkan meninggalkan
kelas.” Ucap Pak Guru dan berjalan kembali ke mejanya.
Ratih sontak
menoleh ke arahku dengan tatapan berang sebelum ia keluar kelas. Aku bingung.
Apa salahku?
***
“Lo kok jahat
gitu, sih?” Serbu Ratih setelah Guru Bahasa Jepang itu meninggalkan kelas.
Aku diam. Tidak
tahu harus membalas bagaimana.
“Apaan, sih?”
Keyfa menyeruak dari kerumunan murid-murid yang sudah mengelilingiku. Sebagian
diantaranya kesal dengan ulahku. Sebagiannya lagi ingin tahu apa yang akan
terjadi.
“Gara-gara
Artha gue kena sama Sensei!” Adu
Ratih.
“Apa salah
saya?” Tanyaku bingung. Lalu kerumunan tersebut membisikkan kata-kata yang tak
bisa aku dengar.
“Lo polos
banget, sih? Apa salah gue sama lo? Gue udah baik sama lo. Gue bersedia bantuin
lo kalau lo perlu apa-apa. Gue mau berteman sama lo. Apa salah gue, hah?!”
Bentak Ratih.
Tidak semua
kata-kata Ratih dapat aku tangkap. Tapi ada satu kalimat yang langsung
tertancap di otakku.
Aku lalu
menatap bengis ke arah Ratih. Kerumunan itu sontak terdiam melihat tatapanku.
“Sejak awal, saya tak pernah mengakui anda sebagai teman saya.”
***
Aku menunggu
sopir Ayah datang menjemput. Sudah lebih dari 10 menit aku menunggu. Apakah tak
ada satu pun dari orang-orang di negara ini yang bisa datang tepat waktu?
“Hey!”
Aku terlonjak
mendengar suara itu. Dengan cepat aku menoleh dan mendapati Keyfa sedang
berjalan ke arahku.
“Ngapain lo?”
Tanyanya.
“Waiting.” Jawabku.
“Mau gue
temenin?”
Refleks aku
melongo. Dia menawarkan bantuan? Serius?
“Errr...
Bukannya apa-apa. Tapi gue nggak tega liat cewek sendirian sore-sore begini. Apalagi
cewek kayak lo. Terlalu menggoda buat diculik,” Tambahnya.
Aku mengangguk
singkat. Tidak baik menolak kebaikkan. Keyfa berdiri di sampingku sembari
memainkan handphonenya.
“Untung gue
langsung pindah tempat duduk. Bisa-bisa sekarang gue ada di posisi Ratih.”
Keyfa terkekeh. “Tapi lo keren banget tadi siang. Lo bisa ngebungkam seorang
Ratih yang terkenal dengan debatannya yang mematikan.”
“Terima kasih,”
Ujarku singkat.
Hening. Aku
tidak tahan. Banyak sekali pertanyaan yang ingin aku tanyakan pada Keyfa. Tapi
aku terlalu malas bertanya lebih dahulu kepada orang asing.
“Yang lo
lakukan nggak salah kok. Serius.” Ucap Keyfa tiba-tiba membuat aku tersentak.
“Really? Tapi kenapa mereka semua seperti
itu?” Tak tahan aku menumpahkan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
“Yaa..
Bagaimana ya gue jelasinnya? Err.. Intinya lo nggak salah, deh.”
“Saya masih tak
mengerti.”
“Gini deh. Lo
punya temen yang melakukan kejahatan dan lo lapor itu ke orang lain. Di satu pihak
lo berbuat baik, di lain pihak temen lo ngerasa dikhianati. Ngerti, kan?” Jelas
Keyfa.
Teman?
Dikhianati? Apa yang mereka tahu tentang itu? Huh.
“Muncul lagi
deh senyum jahatnya.”
Aku tersadar
dari lamunanku. “What?”
“Lo ngerti kan
maksud gue tadi?”
“Tidak,” Aku
mengambil napas dalam. “Pertama, Ratih bukan teman saya. Kedua, bagaimana saya
bisa mengkhianati saat dia memang bukan teman saya?”
“Ya memang
Ratih yang ngaku-ngaku, sih. Tapi kan...”
“Saya tak
pernah bilang kalau dia teman saya.”
“Umumnya saat
orang melakukan perkenalan, itulah awal sebuah pertemanan.”
“If that so, i don’t want to know everybody.”
“Lo kenapa,
sih?”
Aku menundukkan
kepalaku. Semua ingatan itu langsung menyerbuku. “Last time I had a friend, I gave all I had to her, and what she did
just stab me. She dated my boyfriend. She said many bad things about me to her
another friends. I was so idiot,”
Hening. Aku
menengadahkan kepala dan mendapati Keyfa sedang menatap bingung ke arahku. Is he deaf?
“Terus apa itu
berarti semua orang yang akan berteman dengan lo punya niat untuk menghancurkan
lo?”
Deg. Seperti
sebuah tombak yang mempunyai ujung runcing, perkataannya langsung menembus
otakku.
“Temen lo yang
dulu itu memang salah. Tapi lo harus jadikan itu pelajaran. Bukan kenangan
buruk. Bukan dijadiin tameng buat masa depan lo.”
“Jadi, saya
salah?” Aku mendengus kesal.
“Yap.”
Aku melirik
sinis padanya. “Saya harus minta maaf kepada Ratih?”
“Absolutely.”
"Karena?"
"Karena lebih baik lo minta maaf walaupun lo nggak salah, daripada lo keras kepala selalu benar."
"Karena?"
"Karena lebih baik lo minta maaf walaupun lo nggak salah, daripada lo keras kepala selalu benar."
Aku balikkan
badanku menghadapnya, memiringkan kepalaku, dan menyipitkan mataku.
Menantangnya.
“Maksud gue, dia juga harus minta
maaf sama lo. Kalian berdua saling minta maaf. Yaelah, serem banget sih lo!”
Ucapnya cepat-cepat. “Dan lo pernah denger kata-kata Abraham Lincoln nggak?
Kata dia ‘Am I not destroying my enemies when I make friends of
them?’”
Aku balikkan
lagi badanku. Berusaha meresapi semua kata-kata Keyfa. Dia ada benarnya. Tidak
baik membawa kenangan burukmu ke masa depanmu. Tapi tetap saja rasanya hati ini
masih sakit mengingat pengkhianatan Rhannadine.
“Kalau lo ngerasa
masih susah buat maafin, nggak usah dipaksa. Saran gue sih lo mulai sesuatu
yang baru. Tuhan ngasih lo hal yang buruk supaya lo siap dengan hal yang
menyenangkan.” Jelas Keyfa seolah bisa membaca pikiranku.
“Walaupun anda
orang yang messy, jalan pikiran anda
ternyata bagus juga.” Ucapku ogah-ogahan.
Bisa
kulihat
dengan sudut mataku Keyfa meringis. “Lo tuh harus belajar bagaimana
caranya supaya nggak terlalu polos tahu nggak?” Keyfa memalingkan
mukanya melihat ke jalan dengan tatapan
kesal.
“Could you help me then?”
Keyfa menengok
ke arahku. “Bantu apa?”
“Belajar menjadi orang yang nggak terlalu polos.”
Kulihat orang
itu tersenyum. Senyum yang berbeda dengan yang pernah kulihat. “Tentu.”
Aku menghela
napas dan dengan cepat mengulurkan tanganku ke arahnya.
“Apa?” Tanya
Keyfa bingung.
“You said that i have to start the new one.
So, i want to start it from you.” Aku pasti bisa. “Nama saya Anandia Martha
Yuniati. Anda bisa panggil saya Artha. Nice
to know you.”
Keyfa membeku
cukup lama. Tanganku belum bergeming sedari tadi. Tapi nyaliku sudah ciut
duluan. Perlahan kutarik kembali tanganku. Tapi tiba-tiba tangan Keyfa sudah
menggenggam tanganku.
“Keyfa Rusyadi.
Lo panggil gue Keyfa aja. Dan sebagai pelajaran pertama gue ke lo, gue akan
ubah kata ‘saya-anda’ kamu setidaknya menjadi ‘aku-kamu’.” Ucap Keyfa dengan
senyum termanisnya.
============================
Oke (~_~) Udah lama gue nggak buat cerpen sama fanfict. Maklum gue lagi sibuk sama pelajaran di sekolah. Cerpen ini meaningnya nggak kuat banget, sih. Tapi cukuplah untuk sekedar penyegar otak (Buat gue, sih. Hehehe) :)
Sign (Skip 2)
Mungkin ada beberapa followers twitter gue yang menganggap gue fanatik dengan horoskop. Itu salah besar -___-
Gue orang yang ngebaca horoskop dan 5 menit kemudian lupa dengan isi horoskop tersebut. Tapi saat gue baca fakta tentang kepribadian sign, baru gue suka. Kenapa? Kan, aneh aja kalau orang lain bisa baca kepribadian orang lain dengan sign doang? Yaaaa untung2 kalau bener. Kalau salah ya sama gue juga diabaikan kok. Nah masalahnya acc twitter horoskop di tl gue kadang2 bener -_- benernya itu bikin jleb.
Jadi jangan aneh kalau liat gue ngeretweet dan ngefavoritekan beberapa tweet. Karna itu emang gue banget -__-
Thursday, November 8, 2012
Skip 1
Saat ada yang salah tapi kau tak merasakan apa-apa.
Saat kenangan buruk datang menyerang tapi kau tersenyum.
Saat kau melihat semuanya bersama volume keras dari musik di headsetmu tapi kau hanya memiringkan kepala.
Apa yang terjadi?
Saat kenangan buruk datang menyerang tapi kau tersenyum.
Saat kau melihat semuanya bersama volume keras dari musik di headsetmu tapi kau hanya memiringkan kepala.
Apa yang terjadi?
Friday, October 12, 2012
Pray
Semalem Bokap jemput gue di GO. Padahal gue udah bawa motor. Yaudah gue jemput deh dia di mie ayam crispy deket GO. Dari jauh gue lihat dia lagi makan. Dan baru gue sadari, betapa tua dia saat ini. Riesa pernah ngomong ke gue bagaimana dia baru sadar bagaimana mamanya sudah bertambah tua. Dan gue baru sadar detik itu juga. Mindset gue selalu berpikir atau merasa bahwa hanya diri gue aja yang bertambah tua. Gue selalu merasa ortu gue segitu-gitu aja. Memang gue salah. Dan baru sadar.
Semalem gue nangis. Gue mikirin ortu gue. Pikiran gue simple aja. Gue belum kepengen kehilangan mereka berdua. FYI, gue bukan tipe anak yang suka cerita ke ortu. Yang gue ceritain ke ortu gue hanya apa yang mereka perlu tahu saja. Gue nggak pernah cerita soal masalah pertemenan gue, bagaimana gue di sekolah, dll. Yang mereka tahu adalah apa yang gue dapat dari pelajaran di sekolah. Just that. Temen-temen gue yang mereka tahu saja cuma beberapa.
Bukan. Bukan karna gue nggak suka mereka ikut campur. Tapi gue nggak mau mereka berfikir yang macam-macam dan khawatir yang berlebihan. Gue cukup ingin menunjukkan kepada mereka kalau gue kuat. Kalau gue tegar. Walaupun gue nggak begitu. Walaupun gue suka nangis diam-diam di kamar kalau ada masalah berat. Bukan karna apa-apa. Gue cuma pengen yang mereka ketahui bahwa gue bahagia. (Oke, dalam konteks ini bukan berarti gue nggak bahagia ye.)
Tapi itu tidak menunjukkan bahwa gue nggak deket sama ortu gue. Nggak. Gue deket, kok. Tapi gue punya dunia dimana ortu gue cukup main di belakang layar saja. Biar gue saja yang akting di panggung. Biar gue sendiri yang ngerasain semuanya. Mereka hanya perlu kasih support dan menjadi orang yang pertama yang gue datengin dan bilang "Ibu, Bapak, aku berhasil!"
Masalah di luar sekolah dan keluarga, gue selesaikan sendiri. Gue nggak pernah minta saran sama ortu. Gue nggak pernah curhat sama mereka. Keberadaan mereka di rumah saja sudah cukup buat ngasih "support bisu" ke gue. Dan itu lah yang gue doakan kemarin. Gue pengen mereka berdua masih ada buat gue sampai gue sudah siap jika suatu hari mereka dipanggil oleh Allah SWT. Cuma kehadiran dan kasih sayang mereka saja yang gue butuhkan sekarang. Gue belum mau mereka pergi dalam waktu dekat. Gue masih butuh "support bisu" mereka.
Cita-cita terdalam gue adalah bisa beliin apapun yang ortu gue mau. Gue pengen saat mereka ngeluh sesuatu nanti, gue bisa memperbaikinya. Gue pengen bisa jadi orang yang akan mereka banggakan. It's simple. Seperti gue hidup untuk nyokap-bokap gue. Untuk kebahagiaan mereka.
Wednesday, October 3, 2012
MoodBooster now: Cloudy sky
Di tengah kesibukkan gue dengan LKS, gue masih bisa sempet-sempetnya buat postingan di Blog. Yeah, that's my skill. Soalnya, seorang kakak kelas yang jago dalam sastra pernah bilang sama gue.
Saat kau menemukan sebuah kata-kata fantastik, cepatlah tulis.
Yeah!! Berhubung gue adalah orang yang jarang jarang jarang jarang sekali dapet inspirasi buat nulis, jadi gue harus cepat-cepat menumpahkannya saat dapat inspirasi.
Gue lagi capek. Banyak cobaan sejak dimulainya pembelajaran kelas 3 ini. Untungnya gue nggak ada masalah keluarga. Gue nggak akan jabarin masalah apa aja yang lagi gue hadapin. Cukup satu aja. Masalah sekolah.
Pr numpuk gila -_- Minggu depan UTS pula. Heuhhhh. Intinya gue udah capek. Rasanya gue ke sekolah aja setengah hati. Pulang ke rumah, masih setengah hati juga. Gue merasa nyawa gue udah dibagi kemana-mana. Nggak ada yang benar. Tiap ada waktu kosong, gue pakai buat berpikir melalang buana. Hal itu menjadikan gue sensitif dan gampang marah. Terbukti bagaimana gue udah buat berbagai kekacauan. Tapi, masa bodoh. Selama kehidupan nyata gue baik-baik saja, gue nggak akan kenapa-kenapa. Motto gue pada saat ini: Buanglah apapun yang mengganggumu dan jangan biarkan itu kembali lagi.
Di tengah semua itu gue berharap ada sesuatu yang menjadi moodbooster gue. Alhamdulillah Allah melimpahkan karunia-Nya. Dihadirkannya mendung belakangan ini. Gue menjadi lebih damai walau di dalamnya gue masih ruwet.
Mendung. God! I love it so damn much! Kenapa gue bisa suka sama suasana itu? Melihat langit dari warna sesungguhnya sangat menentramkan jiwa gue. Berbagai pikiran positif datang pada gue. Jadi, buat kalian yang merasa perlu waktu "baik" untuk berbicara dengan Anggun, biacaralah padanya saat mendung. Surely, gue bakal memberikan tanggapan positif.
Tapi selain hal positif, yang gue dapet saat mendung adalah flashback. Memang nggak bagus untuk memandang ke belakang. Apalagi itu adalah kejadian buruk yang membuat sakit hati. Uh. Tapi, saat mendung, adegan flashback itu datang secara perlahan dan lembut. Membuat kita merindukan adegan-adegan yang kita renungkan. Kerinduan yang lembut itu yang gue sukai. Rasanya seperti semua kekuatan lo datang and like you never ever meet something called sadness. It makes everything ok.
Itu lah kekuatan gue saat ini. Gue nggak habis-habisnya bersyukur kepada Allah SWT karna sudah menciptakan suasana mendung. Walau kadang-kadang ngebuat gue galau, tapi gue lebih banyak dapat hal positifnya.
I ADORE CLOUDY SO FUCKING MUCH
Sunday, September 30, 2012
Cycle of Life
Gue sendiri nggak ngerti kenapa gue kebelet pengen buat postingan ini. Gue cuma merasa ada sesuatu yang mendesak keluar. Gue udah nggak bisa ngelimpahin semuanya ke aplikasi social network yang lain. Blog dirasa paling aman karna jarang orang yang melihatnya. Just they are who really do want to know something about me. Jadi postingan2 blog yang berisi curhatan atau petuah nggak akan gue share di twitter lagi. Tapi, ngapain juga ya gue ngasih petuah tapi nggak disebarin? -_- Ya menghindari dari hal yang buruk saja.
Back to the topic, gue selalu salut dengan bagaimana siklus hidup berlangsung. Selalu memberikan hal mengejutkan ke kita. Bahkan siklus hidup dapat memberikan hal yang sama berulang kali tapi dengan jalan yang berbeda. Bagaiamana seseorang bisa jatuh ke lubang yang sama untuk yang kedua kalinya. Pernah ngerasain?
Gue pernah ngerasain "sudah jatuh tertimpa tangga". Rasanya sakit sebagaimana luka yang belum sembuh diberi tetesan jeruk nipis. Gue adalah orang yang butuh waktu lama buat nyembuhin luka. Dan lebih buruknya, gue orang yang gampang terluka. Okay, it sounds so "lebay" -_- Tapi beneran deh. Gue orang yang gampang marah tapi cepat buat memaafkan. Walaupun sakit dari lukanya masih ada.
Ada yang bilang kehidupan itu kayak roda. Pasti pernah di atas, pernah di bawah. Lama waktu kau di atas dan di bawa pasti akan sama. Kalau merasa tidak sama, lihat lebih seksama. Hidup tuh adil. Karna Allah SWT yang membuatnya adalah Maha Adil. Gue nggak tahu bagaimana dan kapan Allah akan membalas pengorbanan dan keegoisan gue selama gue hidup. Tapi gue percaya pasti adil. Dia-lah yang sangat aku percayai.
Hal yang buruk di dunia ini gue anggap adalah pelengkap untuk menyeimbangkan hidup. Kau tak tahu bagaimana indahnya senyuman sebelum kau merasakan pahitnya tangisan. Kau tak tahu bagaimana berharganya sebuah pertemuan sebelum kau merasakan sakitnya perpisahan.
Pertemuan-perpisahan. Ada yang lama, ada yang singkat. Menurut gue pertemuan yang paling lama adalah pertemuan dengan keluarga inti. Dan pertemuan yang paling singkat menurut gue adalah pertemuan di dunia maya. Gue nggak usah kasih komen dengan argumen gue yang pertama, kan? Kalau yang kedua, err, gue udah ngerasain. Buktinya macam Norman, Jojo-Shinta, dan si Udin itu. Mereka memang sangat terkenal pada masanya. Tapi sekarang? Gue udah nggak denger kabar mereka lagi tuh -_-
Begitulah siklus hidup. Saling bertolak belakang. Saling melengkapi. You don't know how it's going to work. You just can prepare for the best and the worst. But, keep my words:
You are not the highest nor the lowest. So don't be selfish and always be grateful.
Taylor Swift - We Are Never Ever Getting Back Together
I Remember when we broke up the first time
Saying "This is it, I've had enough", cause like
We hadn't seen each other in a month
When you, said you, "needed space", what?
Then you come around again and say
Baby, I miss you and I swear I'm gonna change
Trust me, remember how that lasted for a day
I say, I hate you, we break up, you call me, I love you
Oooh we called it off again last night
But Oooh, this time I'm telling you, I'm telling you
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends, talk to my friends, talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Like ever...
I'm really gonna miss you picking fights
And me, falling for it screaming that I'm right
And you, will hide away and find your peace of mind
with some indie record that's much cooler than mine
Oooh you called me up again tonight
But Oooh, this time I'm telling you, I'm telling you
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends talk to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
I used to think, that we, were forever ever
And I used to say never say never
Huh, he calls me up and he's like, I still love you
And i'm like, I just, I mean this is exhausting, you know
We are never getting back together, like ever
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends talk to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Not getting back together, we
Oh, getting back together
You go talk to your friends talk
to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Gue lagi tergila-gila dengan lagu ini. Seriously. Bawaannya enak dinyanyiin :3
Saying "This is it, I've had enough", cause like
We hadn't seen each other in a month
When you, said you, "needed space", what?
Then you come around again and say
Baby, I miss you and I swear I'm gonna change
Trust me, remember how that lasted for a day
I say, I hate you, we break up, you call me, I love you
Oooh we called it off again last night
But Oooh, this time I'm telling you, I'm telling you
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends, talk to my friends, talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Like ever...
I'm really gonna miss you picking fights
And me, falling for it screaming that I'm right
And you, will hide away and find your peace of mind
with some indie record that's much cooler than mine
Oooh you called me up again tonight
But Oooh, this time I'm telling you, I'm telling you
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends talk to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
I used to think, that we, were forever ever
And I used to say never say never
Huh, he calls me up and he's like, I still love you
And i'm like, I just, I mean this is exhausting, you know
We are never getting back together, like ever
We are never ever ever ever getting back together
We are never ever ever ever getting back together
You go talk to your friends talk to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Not getting back together, we
Oh, getting back together
You go talk to your friends talk
to my friends talk to me
But we are never ever ever ever getting back together
Gue lagi tergila-gila dengan lagu ini. Seriously. Bawaannya enak dinyanyiin :3
Friday, September 7, 2012
Blue Bird - Ikimono Gakari
Habata itara modoranai to ittte
Mezashita no wa aoi aoi ano sora
"Kanashimi" wa mada oboerarezu
"Setsunasa" wa ima tsukami hajimeta
Anata e to daku kono kanjou mo
Ima "kotoba" ni kawatte iku
Michi naru sekai no yume* kara mezamete
Kono hane wo hiroge tobitatsu
Habata itara modoranai to itte
Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aisou sukita you na oto de
Sabireta furui mado wa kowareta
Miakita kago wa hora sutete iku
Furikaeru koto wa mou nai
Takanaru kodou ni kokyuu wo azukete**
Kono mado wo kette tobitatsu
Kakedashitara te ni dekiru to ittte
Izanau no wa tooi tooi ano koe
Mabushi sugita anata no te mo nigitte
Motomeru hodo aoi aoi ano sora
Ochite iku to wakatte ita
Soredemo hikari wo oi tsudzukete iku yo
Habata itara modoranai to ittte
Sagashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Mezashita no wa aoi aoi ano sora
"Kanashimi" wa mada oboerarezu
"Setsunasa" wa ima tsukami hajimeta
Anata e to daku kono kanjou mo
Ima "kotoba" ni kawatte iku
Michi naru sekai no yume* kara mezamete
Kono hane wo hiroge tobitatsu
Habata itara modoranai to itte
Mezashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aisou sukita you na oto de
Sabireta furui mado wa kowareta
Miakita kago wa hora sutete iku
Furikaeru koto wa mou nai
Takanaru kodou ni kokyuu wo azukete**
Kono mado wo kette tobitatsu
Kakedashitara te ni dekiru to ittte
Izanau no wa tooi tooi ano koe
Mabushi sugita anata no te mo nigitte
Motomeru hodo aoi aoi ano sora
Ochite iku to wakatte ita
Soredemo hikari wo oi tsudzukete iku yo
Habata itara modoranai to ittte
Sagashita no wa shiroi shiroi ano kumo
Tsukinuketara mitsukaru to shitte
Furikiru hodo aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Aoi aoi ano sora
Ini lagu sehidup semati gue.. (?) Gue selalu deg-degan denger lagu ini. It's special song ever
Payphone - Maroon 5
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
Yeah, I, I know it's hard to remember,
The people we used to be...
It's even harder to picture,
That you're not here next to me.
You say it's too late to make it,
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down
I've wasted my nights,
You turned out the lights
Now I'm paralyzed,
Still stuck in that time,
When we called it love,
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit
One more fucking love song, I'll be sick.
Oh, you turned your back on tomorrow
'Cause you forgot yesterday.
I gave you my love to borrow,
But you just gave it away.
You can't expect me to be fine,
I don't expect you to care
I know I've said it before,
But all of our bridges burned down
I've wasted my nights,
You turned out the lights
Now I'm paralyzed,
Still stuck in that time,
When we called it love,
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit
One more fucking love song, I'll be sick.
Now I'm at a payphone
Man, fuck that shit
I'll be out spending all this money
While you're sitting round wondering
Why it wasn't you who came up from nothing,
Made it from the bottom
Now when you see me I'm stunning,
And all of my cars start with a push of a button
Telling me the chances I blew up
Or whatever you call it,
Switch the number to my phone
So you never could call it,
Don't need my name on my shirt,
You can tell it I'm ballin.
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could have saw but sad to say it's over for.
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now it's me who they want, so you can go and take
That little piece of shit with you.
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit[Album:] All those fairy tales are full of it.
One more fucking love song, I'll be sick.[Album:] One more stupid love song, I'll be sick
Now I'm at a payphone...
Karna Tasya, lagu ini jadi punya artinya bagi gue..
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
Yeah, I, I know it's hard to remember,
The people we used to be...
It's even harder to picture,
That you're not here next to me.
You say it's too late to make it,
But is it too late to try?
And in our time that you wasted
All of our bridges burned down
I've wasted my nights,
You turned out the lights
Now I'm paralyzed,
Still stuck in that time,
When we called it love,
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit
One more fucking love song, I'll be sick.
Oh, you turned your back on tomorrow
'Cause you forgot yesterday.
I gave you my love to borrow,
But you just gave it away.
You can't expect me to be fine,
I don't expect you to care
I know I've said it before,
But all of our bridges burned down
I've wasted my nights,
You turned out the lights
Now I'm paralyzed,
Still stuck in that time,
When we called it love,
But even the sun sets in paradise
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit
One more fucking love song, I'll be sick.
Now I'm at a payphone
Man, fuck that shit
I'll be out spending all this money
While you're sitting round wondering
Why it wasn't you who came up from nothing,
Made it from the bottom
Now when you see me I'm stunning,
And all of my cars start with a push of a button
Telling me the chances I blew up
Or whatever you call it,
Switch the number to my phone
So you never could call it,
Don't need my name on my shirt,
You can tell it I'm ballin.
Swish, what a shame could have got picked
Had a really good game but you missed your last shot
So you talk about who you see at the top
Or what you could have saw but sad to say it's over for.
Phantom pulled up valet open doors
Wiz like go away, got what you was looking for
Now it's me who they want, so you can go and take
That little piece of shit with you.
I'm at a payphone trying to call home
All of my change I spent on you
Where have the times gone, baby it's all wrong
Where are the plans we made for two?
If "Happy Ever After" did exist,
I would still be holding you like this
All those fairy tales are full of shit[Album:] All those fairy tales are full of it.
One more fucking love song, I'll be sick.[Album:] One more stupid love song, I'll be sick
Now I'm at a payphone...
Karna Tasya, lagu ini jadi punya artinya bagi gue..
You - Ten2Five
You...
You did it again
You did hurt my heart
I don’t know how many times
You…
I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
Oh you..
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
Oh you..
You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying
Oh you..
I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
Oh you..
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
You did it again
You did hurt my heart
I don’t know how many times
You…
I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
Oh you..
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
Oh you..
You frustated me with this love
I’ve been trying to understand
You know i’m trying i’m trying
Oh you..
I don’t know what to say
You’ve made me so desperately in love
And now you let me down
You said you’d never lie again
You said this time would be so right
But then I found you were lying there by her side
Oh you..
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
You turn my whole life so blue
Drowning me so deep, I just can reach myself again
Oh you..
Successfully tore myheart
Now it’s only pieces
Nothing left but pieces of you
Innocence -Avril Lavigne
Waking up I see that everything is ok
The first time in my life and now it's so great
Slowing down I look around and I am so amazed
I think about the little things that make life great
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
I found a place so safe, not a single tear
The first time in my life and now it's so clear
Feel calm I belong, I'm so happy here
It's so strong and now I let myself be sincere
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
It's the state of bliss you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's the state of bliss you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's so beautiful it makes you want to cry
This innocence is brilliant, it makes you want to cry
This innocence is brilliance, please don't go away
Cause I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
Dari awal gue denger lagu ini, gue jatuh cinta. Ini lagu Avril yang pertama membuat gue terpesona. Dan saat tiba-tiba winamp nge-play lagu ini, seketika gue merinding. I found a place that i used to think so safe.
The first time in my life and now it's so great
Slowing down I look around and I am so amazed
I think about the little things that make life great
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
I found a place so safe, not a single tear
The first time in my life and now it's so clear
Feel calm I belong, I'm so happy here
It's so strong and now I let myself be sincere
I wouldn't change a thing about it
This is the best feeling
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
It's the state of bliss you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's the state of bliss you think you're dreaming
It's the happiness inside that you're feeling
It's so beautiful it makes you wanna cry
It's so beautiful it makes you want to cry
This innocence is brilliant, it makes you want to cry
This innocence is brilliance, please don't go away
Cause I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
This innocence is brilliant, I hope that it will stay
This moment is perfect, please don't go away, I need you now
And I'll hold on to it, don't you let it pass you by
Dari awal gue denger lagu ini, gue jatuh cinta. Ini lagu Avril yang pertama membuat gue terpesona. Dan saat tiba-tiba winamp nge-play lagu ini, seketika gue merinding. I found a place that i used to think so safe.
Dari NOL jadi DODOL
Gue selalu penasaran darimana asal ketertarikkan gue akan menulis. Yang gue maksud dengan menulis bukannya benar-benar menulis dengan tangan. Maksud gue membuat sebuah cerita. 3 sahabat gue ahli dalam bidang ini.
Raden (Rizka/Risut), karya tulis yang ia hebati adalah puisi. Baca aja di blog dia di sini. Dia bilang, sih, itu bukan puisi. Bodo weh lah mau nyebut itu puisi atau bukan. Tapi keterampilan dia buat puisi yaaaaa bagus deh. Walau dia jarang membuat karya tulis, tapi pengetahuan dan pengamatannya harus diacungin jempol!! (Y)
Tasya, dia suka buat cerpen. Cerpen-cerpen dia bisa lo liat di sini. Cerpennya, sih, bagus-bagus. Cerpen dia yang judulnya "Hilang Dalam Diam" itu ............... *lupakan* Daya imajinasi dia juga hebat. Selain itu, dia juga inofatif~ (nih gue puji-puji lo, sya!)
Devita, jangan ditanyalah dia mah. Dia juara 1 lomba cerpen tupperware. Hadiahnya juga lumayan bangetttttttttt pakai t 100 kali. Dia sumber inspirasi gue. Gue selalu salut bagaimana dia bisa dengan mudah mendapatkan inspirasi menulis. Gue? Butuh semedi di kamar mandi 7 hari 7 malam dulu baru dapat inspirasi. Gue pernah lho tandingin cerpen gue sama dia. Hasilnya pertandingannya, gue harus traktir dia kue cane -_- Nah, makhluk inilah yang memperkenalkan gue dengan kegiatan membuat karangan tulis.
Awalnya adalah saat kelas 1 SMA. Dia lagi buat novel dengan judul "My Eternal Happiness". Gue yang masih bego, terkesima dengan kegiatan dia. Selama ini kerjaan gue adalah membaca novel. Dan sekarang gue berteman dengan penulis novel. *Tolong dipertebal kata "bego" tadi. Karna gue bener-bener kayak orang bego waktu itu.*
Karangan menulis pertama gue adalah fan fiction. Waktu itu gue masih dodol banget merangkai kata (Sekarang juga masih dodol, sih. Hehehehe). Vocab gue juga masih minim. Ahhh, pokoknya masih dodol prododol.
Tapi kian kemari, ada peningkata, sih. Sedikit. Gue nggak akan pernah puas dengan ketertarikkan gue akan membuat cerita. Walau gue sekarang masih mendasar pada FF dan cerpen. Do'akan gue bisa buat novel best seller suatu hari. *aminnnnn*
I ask my regards to my lovely deeply Depitah. For everythings you've shown to me, it change me.
Sunday, September 2, 2012
Hurt
Pernah nggak ngerasain sakit banget? I did.
Pernah nggak ngerasain saat kau nggak bisa apa-apa? I did.
Pernah nggak nangis sampai susah berhenti? I did.
Atau, pernah nggak ngerasain sakit banget, tapi kamu nggak bisa berbuat apa-apa, bahkan nangis pun udah nggak cukup untuk meluapkannya? I do.
Kenangan. Mengapa harus ada kenangan kalau itu cuma bisa buat kita sakit? Mengapa harus ada kenangan buruk? Mengapa kenangan buruk adalah kenangan yang paling susah dilupakan?
Why?
Saat kamu sudah tahu realitasnya, semua kenangan dan harapan menghantammu bagai hujan di padang pasir. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Saat hati menjerit rindu, tapi disaat yang bersamaan dia tertusuk oleh masa lalu dan masa sekarang. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Saat kau berusaha mengais-ngais untuk sebuah harapan, tapi kau ragu untuk mencobanya. Karna kau takut dengan sakit yang dulu menyiksamu. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Apa yang aku rasakan? Hurt.
Apa yang aku lakukan? Nothing.
Puas kau sekarang?
Pernah nggak ngerasain saat kau nggak bisa apa-apa? I did.
Pernah nggak nangis sampai susah berhenti? I did.
Atau, pernah nggak ngerasain sakit banget, tapi kamu nggak bisa berbuat apa-apa, bahkan nangis pun udah nggak cukup untuk meluapkannya? I do.
Kenangan. Mengapa harus ada kenangan kalau itu cuma bisa buat kita sakit? Mengapa harus ada kenangan buruk? Mengapa kenangan buruk adalah kenangan yang paling susah dilupakan?
Why?
Saat kamu sudah tahu realitasnya, semua kenangan dan harapan menghantammu bagai hujan di padang pasir. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Saat hati menjerit rindu, tapi disaat yang bersamaan dia tertusuk oleh masa lalu dan masa sekarang. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Saat kau berusaha mengais-ngais untuk sebuah harapan, tapi kau ragu untuk mencobanya. Karna kau takut dengan sakit yang dulu menyiksamu. Apa yang kau rasakan? Apa yang kau lakukan?
Apa yang aku rasakan? Hurt.
Apa yang aku lakukan? Nothing.
Puas kau sekarang?
Saturday, September 1, 2012
Letters in my tree
*01 September 1971*
Kulihat ia berjalan menuju Hogwarts Express. Langkah pasti, tatapan mengawasi. Pure-blood. Sudah bukan hal asing pada zaman ini bahwa pure-blood lah yang berkuasa. Tapi ada yang berbeda dari orang ini. Dia terlihat sangat berhati-hati. Seakan anak-anak disini adalah bom waktu. Mungkin aku harus berhati-hati dengan dia.
*25 Desember 1974*
“Tambah lagi, Anggun?”
Aku tersenyum mengiyakan. Aku merayakan natalku di rumahnya. Kami melakukan giliran. Tahun kemarin dia merayakan natal ke rumahku. Keluarganya cukup ramah padaku. Aku senang-senang saja. Tapi kulihat dia tampak murung di seberang meja. Dia hanya memainkan makanannya. Aku tahu kenapa. Dan aku yakin kalian juga tahu kenapa.
“Kau kok bisa sih tahan sama mereka?” Semburnya saat masuk ke kamarku.
Aku hanya mengangkat bahu. Tak tahu harus menjawab apa. Kami cukup dekat dalam waktu 3 tahun ini. Awal kami berkenalan adalah saat ia bersalaman denganku karna kami berdua adalah siswa/siswi pertama yang memasuki Gryffindor. Sejak saat itu kami berdua sangat dekat. Aku juga cukup dekat dengan ketiga temannya yang lain. Cukup menyenangkan menjadi sahabatnya. Yeah, sahabatnya.
*31 Agustus 1976*
“Kau, apa?”
Kuhembuskan napas. Ada semacam luka dalam hatiku. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa rasa sakit ini. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa perasaan ini. Tapi aku belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang harus aku lakukan terhadap rasa sakit di perasaan ini.
“Ayahku dialih tugas kan ke Yunani. Aku harus pindah sekolah.” Ucapku padanya.
“Kau bercanda bukan?” Tanyanya.
Aku tak berani memandang matanya. Rasanya sakit harus meninggalkan orang yang sangat ku cintai. Rasanya sakit karna hanya aku yang merasakannya. Rasanya sakit karna aku tak bisa meluapkan semuanya.
“Tak masalah bukan? Kita masih bisa berkirim surat dengan burung hantu. Walaupun....” itu tak pernah cukup. “Walaupun itu sangat menyusahkan.“ Ucapku sembari tersenyum menyeringai.
Hening.
Kuangkat kepalaku. Kulihat ia memandangku dengan tatapan marah. “Itu berbeda.”
“Apa yang beda? Apakah itu berarti? Tidak untukmu, kan?” Tantangku.
“Kau tak pernah tahu apa-apa, Anggun.”
“Karna kau tak pernah memberi tahuku apa-apa, Sirius.”
Aku pergi dari rumahnya. Itulah percakapan terakhir kami. Selamanya.
*01 Sepetmber 2000*
Aku berada di King’s Cross mengantar anakku yang ke-2 berangkat ke Hogwarts. Bersama, kami melewati peron 9 ¾. Kulihat si ular merah besar. Hogwarts Express. Teringat bagaimana kali pertama aku menaikinya. Kali pertama aku melihatnya.
Selama aku di Yunani, aku masih tetap berlangganan Daily Prophet. Aku selalu mengikuti perkembangannya. Saat ia dipenjara di Azkaban. Saat ia berhasil lolos dari Azkaban. Saat namanya dibersihkan atas segala tuduhan. Aku percaya padanya. Selalu.
Setelah mengatar anakku, aku akan mampir ke rumah lamaku. Mengenang hal-hal yang baik. Jika aku masih ingat hal-hal baik itu.
Rumahku dekat dengan pemukiman Godric’s Hollow. Rumah sederhana tapi nyaman. Aku berkeliling di sekitar pekarangan. Teringat saat dia mengajarkanku teknik-teknik quidditch disini. Kuhampiri pohon lebat disamping rumahku. Tempatku dan dia bersantai setelah bermain quidditch.
Kulihat sesuatu menyembul dari lubang di bawah pohon itu. Saat kuambil, ternyata itu adalah beberapa surat yang sudah mengkuning. Surat itu dilindungi mantra impervius. Dapat kukenali tulisan tangan itu. Sirius.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1977
Hai! Kau dimana sekarang? Terakhir kali kita berbicara kau tidak memberitahuku alamatmu di Yunani. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Aku bertanya-tanya pada tetanggamu. Tak ada yang tahu. Kau seperti menghilang begitu saja. Apa kau tak memikirkan perasaanku?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1978
Akhirnya aku lulus dari Hogwarts. Aku memutuskan untuk bergabung dengan Order Phoenix. Aku kabur dari rumah. James memberiku tempat di rumahnya. Dia memang sahabat terbaikku. Aku dengar wajahku dihanguskan oleh ibuku sendiri di pohon keluarga Black. Aku tidak peduli.
Aku masih mengkhawatirkanmu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1979
James dan Lily akan menikah. Aku terpilih sebagai pendamping laki-laki. Ah sahabatku. Aku sungguh bahagia atas dia. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan menikah?
Keadaan disini sungguh kacau. Bagaimana keadaanmu? Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1980
Anak dari Lily akan segera lahir. Laki-laki. James berkata aku akan jadi bapak baptisnya. Aku tak bisa menggambarkan seberapa besar kebahagiaanku. Andai aku bisa membalas semua kebaikkannya.
Apa kau tak pernah kembali? Aku sungguh menantimu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1981
Semua berjalan dengan sempurna. Rumah Lily diberi mantra fidelius. Awalnya akulah sang pemegang kunci. Tapi beralih ke si kecil Peter. Aku khawatir padanya. Ada sesuatu yang berbeda. Tapi aku tak akan mencurigai sahabatku sendiri. Aku percaya pada mereka.
Apakah semuanya baik-baik saja? Aku selalu mengkhawatirkanmu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1993
Aku dijebak oleh si busuk Peter. 12 tahun terpenjara karna bukan kesalahanku. Mengalami kondisi terburuk yang pernah aku alami. Aku akan balas dendam. Aku tahu dimana dia. Aku akan mengejarnya. Walaupun aku harus mati.
Apa kabarmu? Aku percaya kau akan membaca surat ini suatu hari. Entah kapan.
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1994
Aku baik-baik saja sekarang. Aku masih dalam pelarian dengan buckbeak (seekor hippogriff). Aku sudah bertemu dengan Harry. Dia mirip sekali dengan James. Aku juga bertemu dengan Remus. Kau ingat dia, kan? Peter kabur. Tapi aku akan berusaha mengejarnya.
Aku selalu berharap kau membalas suratku. Selalu.
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1995
Aku kembali ke rumahku. Tempat terburuk dan teraman. Harry mendapat masalah. Aku tak heran mengingat bagaimana Ayahnya. Tapi kali ini ia dijebak. Aku yakin itu.
Ini mungkin kali terakhir aku mengirimu surat. Entahlah. Aku hanya merasa seperti orang bodoh. Mengirimi seseorang surat setiap ulang tahunnya ke rumah lamanya dan tak pernah mendapat balasan selama 18 tahun. Jangankan balasan, kabar tentangmu pun aku belum dengar sama sekali. Pernahkah aku bilang padamu bahwa aku mencintaimu? Tentu saja tidak. Egoku terlalu besar. Tapi aku masih menunggumu. Aku akan selalu menunggumu.
Aku mencintaimu. Selalu.
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun. Selamat tinggal.
Kulihat ia berjalan menuju Hogwarts Express. Langkah pasti, tatapan mengawasi. Pure-blood. Sudah bukan hal asing pada zaman ini bahwa pure-blood lah yang berkuasa. Tapi ada yang berbeda dari orang ini. Dia terlihat sangat berhati-hati. Seakan anak-anak disini adalah bom waktu. Mungkin aku harus berhati-hati dengan dia.
*25 Desember 1974*
“Tambah lagi, Anggun?”
Aku tersenyum mengiyakan. Aku merayakan natalku di rumahnya. Kami melakukan giliran. Tahun kemarin dia merayakan natal ke rumahku. Keluarganya cukup ramah padaku. Aku senang-senang saja. Tapi kulihat dia tampak murung di seberang meja. Dia hanya memainkan makanannya. Aku tahu kenapa. Dan aku yakin kalian juga tahu kenapa.
“Kau kok bisa sih tahan sama mereka?” Semburnya saat masuk ke kamarku.
Aku hanya mengangkat bahu. Tak tahu harus menjawab apa. Kami cukup dekat dalam waktu 3 tahun ini. Awal kami berkenalan adalah saat ia bersalaman denganku karna kami berdua adalah siswa/siswi pertama yang memasuki Gryffindor. Sejak saat itu kami berdua sangat dekat. Aku juga cukup dekat dengan ketiga temannya yang lain. Cukup menyenangkan menjadi sahabatnya. Yeah, sahabatnya.
*31 Agustus 1976*
“Kau, apa?”
Kuhembuskan napas. Ada semacam luka dalam hatiku. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa rasa sakit ini. Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa perasaan ini. Tapi aku belum cukup dewasa untuk mengetahui apa yang harus aku lakukan terhadap rasa sakit di perasaan ini.
“Ayahku dialih tugas kan ke Yunani. Aku harus pindah sekolah.” Ucapku padanya.
“Kau bercanda bukan?” Tanyanya.
Aku tak berani memandang matanya. Rasanya sakit harus meninggalkan orang yang sangat ku cintai. Rasanya sakit karna hanya aku yang merasakannya. Rasanya sakit karna aku tak bisa meluapkan semuanya.
“Tak masalah bukan? Kita masih bisa berkirim surat dengan burung hantu. Walaupun....” itu tak pernah cukup. “Walaupun itu sangat menyusahkan.“ Ucapku sembari tersenyum menyeringai.
Hening.
Kuangkat kepalaku. Kulihat ia memandangku dengan tatapan marah. “Itu berbeda.”
“Apa yang beda? Apakah itu berarti? Tidak untukmu, kan?” Tantangku.
“Kau tak pernah tahu apa-apa, Anggun.”
“Karna kau tak pernah memberi tahuku apa-apa, Sirius.”
Aku pergi dari rumahnya. Itulah percakapan terakhir kami. Selamanya.
*01 Sepetmber 2000*
Aku berada di King’s Cross mengantar anakku yang ke-2 berangkat ke Hogwarts. Bersama, kami melewati peron 9 ¾. Kulihat si ular merah besar. Hogwarts Express. Teringat bagaimana kali pertama aku menaikinya. Kali pertama aku melihatnya.
Selama aku di Yunani, aku masih tetap berlangganan Daily Prophet. Aku selalu mengikuti perkembangannya. Saat ia dipenjara di Azkaban. Saat ia berhasil lolos dari Azkaban. Saat namanya dibersihkan atas segala tuduhan. Aku percaya padanya. Selalu.
Setelah mengatar anakku, aku akan mampir ke rumah lamaku. Mengenang hal-hal yang baik. Jika aku masih ingat hal-hal baik itu.
Rumahku dekat dengan pemukiman Godric’s Hollow. Rumah sederhana tapi nyaman. Aku berkeliling di sekitar pekarangan. Teringat saat dia mengajarkanku teknik-teknik quidditch disini. Kuhampiri pohon lebat disamping rumahku. Tempatku dan dia bersantai setelah bermain quidditch.
Kulihat sesuatu menyembul dari lubang di bawah pohon itu. Saat kuambil, ternyata itu adalah beberapa surat yang sudah mengkuning. Surat itu dilindungi mantra impervius. Dapat kukenali tulisan tangan itu. Sirius.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1977
Hai! Kau dimana sekarang? Terakhir kali kita berbicara kau tidak memberitahuku alamatmu di Yunani. Aku sungguh mengkhawatirkanmu. Aku bertanya-tanya pada tetanggamu. Tak ada yang tahu. Kau seperti menghilang begitu saja. Apa kau tak memikirkan perasaanku?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1978
Akhirnya aku lulus dari Hogwarts. Aku memutuskan untuk bergabung dengan Order Phoenix. Aku kabur dari rumah. James memberiku tempat di rumahnya. Dia memang sahabat terbaikku. Aku dengar wajahku dihanguskan oleh ibuku sendiri di pohon keluarga Black. Aku tidak peduli.
Aku masih mengkhawatirkanmu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1979
James dan Lily akan menikah. Aku terpilih sebagai pendamping laki-laki. Ah sahabatku. Aku sungguh bahagia atas dia. Bagaimana denganmu? Apakah kau akan menikah?
Keadaan disini sungguh kacau. Bagaimana keadaanmu? Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1980
Anak dari Lily akan segera lahir. Laki-laki. James berkata aku akan jadi bapak baptisnya. Aku tak bisa menggambarkan seberapa besar kebahagiaanku. Andai aku bisa membalas semua kebaikkannya.
Apa kau tak pernah kembali? Aku sungguh menantimu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1981
Semua berjalan dengan sempurna. Rumah Lily diberi mantra fidelius. Awalnya akulah sang pemegang kunci. Tapi beralih ke si kecil Peter. Aku khawatir padanya. Ada sesuatu yang berbeda. Tapi aku tak akan mencurigai sahabatku sendiri. Aku percaya pada mereka.
Apakah semuanya baik-baik saja? Aku selalu mengkhawatirkanmu. Dimana kau?
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1993
Aku dijebak oleh si busuk Peter. 12 tahun terpenjara karna bukan kesalahanku. Mengalami kondisi terburuk yang pernah aku alami. Aku akan balas dendam. Aku tahu dimana dia. Aku akan mengejarnya. Walaupun aku harus mati.
Apa kabarmu? Aku percaya kau akan membaca surat ini suatu hari. Entah kapan.
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1994
Aku baik-baik saja sekarang. Aku masih dalam pelarian dengan buckbeak (seekor hippogriff). Aku sudah bertemu dengan Harry. Dia mirip sekali dengan James. Aku juga bertemu dengan Remus. Kau ingat dia, kan? Peter kabur. Tapi aku akan berusaha mengejarnya.
Aku selalu berharap kau membalas suratku. Selalu.
Dari sahabatmu,
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun.
------------------------------------------------------------------------------------------------
21 Juli 1995
Aku kembali ke rumahku. Tempat terburuk dan teraman. Harry mendapat masalah. Aku tak heran mengingat bagaimana Ayahnya. Tapi kali ini ia dijebak. Aku yakin itu.
Ini mungkin kali terakhir aku mengirimu surat. Entahlah. Aku hanya merasa seperti orang bodoh. Mengirimi seseorang surat setiap ulang tahunnya ke rumah lamanya dan tak pernah mendapat balasan selama 18 tahun. Jangankan balasan, kabar tentangmu pun aku belum dengar sama sekali. Pernahkah aku bilang padamu bahwa aku mencintaimu? Tentu saja tidak. Egoku terlalu besar. Tapi aku masih menunggumu. Aku akan selalu menunggumu.
Aku mencintaimu. Selalu.
Sirius Black
P.s.: Selamat ulang tahun. Selamat tinggal.
Friday, August 10, 2012
Fanfict 2 part 7
Tanpa aku sadari
aku sudah dikelilingi oleh beberapa murid Slytherin. Dan di hadapanku, menatap
dengan curiga, sosok yang membuat hari-hariku bahagia, Draco. Pansy yang sejak
tadi tersenyum licik, membuka suara lebih dahulu.
“Upss.
Sepertinya ada yang terjebak dalam masalah.”
Kulihat alis
Draco mengkerut. Wajahnya tidak memancarkan keakraban lagi. Dia menatapku
seolah aku orang asing yang memasuki wilayahnya. Sepercik amarah tersulut di
dalam diriku. Rasa ingin melawan.
“Jadi, apa
maksud dari semua ini, Draco?” Tantangku.
Alis Draco
terangkat, sementara aku memincingkan mataku. Genggaman tanganku menguat.
Kuambil langkah pendek ke depan. Gigiku gemetaran. Api kecil itu sudah
berkobar-kobar dalam diriku. Tapi Draco tidak memberikan ekspresi takut,
khawatir, ataupun gelisah. Dengan muka datarnya, ia membalas semua gerakanku
dengan menyilakan tangannya dan menyeringai.
“Baru sadarkah
kau? How pitty you are!”
Api dalam
diriku semakin membesar. Kuarahkan kepalan tanganku ke arah mukanya. Terdengar
bunyi hantaman. Draco terjatuh ke lantai perpustakaan. Semua orang tercekat.
Tubuhku masih bergetar hebat akibat dari tindakakanku tadi. Kutarik napas
panjang. Berharap tubuhku tenang kembali.
“You’re right.” Balasku.
Aku berjalan
melewati tubuh Draco yang masih terkulai di lantai. Terdengar pekikkan Pansy,
menanyakan keadaan Draco. Setelah berada di luar perpustakaan, aku sedikit limbung.
Kutarik napas panjang lagi sembari menutup mata. Terasa mataku sedikit panas.
Kurasakan basahnya air mata. Tidak. Aku tak boleh menangis untuk lelaki tidak
berguna itu. Aku harus secepatnya kembali ke asrama. Aku langkahkan kakiku
dengan mantap. Air mataku kembali merebak. Kupercepat jalanku. Mendorong
seorang murid Ravenclaw saat ia selesai menjawab teka-teki pintu asrama. Aku
berlari saat sudah mencapai tangga asrama. Membuka pintu kamarku lalu
membantingnya. Napasku terengah-engah. Kulihat Hest manatapku bingung. Aku
berlari ke arahnya, memeluknya, dan menangis dalam dekapannya. Dadaku terasa
sakit. Hest hanya diam dan membelas pelukanku. Perlahan ia membelai punggungku.
Berusaha menenangkanku. Tapi Aku berteriak dalam sedu tangis.
Ω
Kabar tentang
aku meninju Draco tersebar luas dalam sehari. Dengan ditambahi bumbu-bumbu di
cerita itu. Aku jamin bahwa itu karangan dari Pansy. Seharian kemarin aku
diwawancarai dan diceramahi oleh Lucie. Dilain pihak, Josh malah membuang muka
saat bertatapan atau berpapasan denganku. Aku bertanya ke Lucie, tapi ia hanya
mengangkat bahu, tidak tahu apapun.
Aku menjadi
musuh nomor satu di Slytherin. Mereka berang karna aku telah memberi lebam di
muka salah satu murid emas Slytherin. Apakah aku merasa terintimidasi? Tentu
tidak. Karna berdasarkan hasil pengamatan Hest, mayoritas dari murid-murid
Gryffindor dan Hufflepuff mendukungku. Ravenclaw? Tentu saja mereka berada
dipihakku.
Tapi tetap saja
ada rasa mengganjal di hati setiap aku berpikir tentang Josh. Apakah dia kecewa
padaku karna sempat mempercayai Draco? Atau karna aku telah berperilaku kasar
sebagai murid Ravenclaw? Harusnya dia bilang kepadaku jika ada yang salah.
Bukannya menjauh seperti ini. Amarah kembali tersulut dalam benakku. Ingin
sekali aku mendatangin si bodoh Josh. Apa perlu aku meninjunya juga? Sungguh
menyebalkan.
2 minggu
kuhabiskan dalam perang bisu dengan Josh. Lucie mencoba mengakrabkan aku dengan
Josh kembali. Dari mulai selalu membicarakan aku di depan Josh atau sebaliknya
hingga berusaha mempertemukan kami di Hogsmeade. Tapi semuanya gagal total.
“Aku menyerah
dengan kalian berdua.” Ucapnya Lucie saat makan malam di Aula Besar.
“It’s okay. Aku juga tidak mau berbaikan
dengan si Rubah.” Balasku sinis.
“Are u kidding? Kalian berdua sudah
seperti adik-kakak. Tidak seharusnya kalian bertengkar untuk alasan yang tidak
jelas.” Sergah Lucie.
Aku mengangkat
bahu dan terus memainkan spaghettiku.
Di sebrang meja, kulihat Draco sedang menatap tajam ke arahku. Rasa sakitku
terhadapnya sudah menghilang. Rasa kagumku pun turut pergi. Tapi aku tidak
takut lagi mendapatkan tatapan tajam dari siapapun, termasuk Draco. Jadi,
kubalas tatapannya dengan mengangkat gelas jus labuku. Melakukan gerakan
bersulang dengan senyum sombong. Kulihat dia mendengus kesal.
Saat aku
memalingkan mukaku, tatapanku bertabrakan dengan Josh yang duduk di ujung meja.
Menatap dengan muka datar. Rasa kesal dari hatiku membuat aku membuang muka dan
kembali menatap spaghettiku.
“Ummm Lucie.
Aku ingin memperingatkan kau. Hati-hatilah terhadap Draco.” Ucapku lalu berdiri
untuk kembali menuju asrama.
Subscribe to:
Posts (Atom)

